Menlu Arab Saudi: Berperang dengan Iran adalah Pilihan Terakhir

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al Jubeir menghadiri wawancara dengan Reuters di Riyadh, Arab Saudi, 16 November 2017. [REUTERS / Faisal Al Nasser]

    Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al Jubeir menghadiri wawancara dengan Reuters di Riyadh, Arab Saudi, 16 November 2017. [REUTERS / Faisal Al Nasser]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Arab Saudi mengatakan akan mempertahankan wilayahnya dan berperang dengan Iran adalah opsi terakhir menyusul serangan ke kilang minyak Saudi Aramco.

    Dalam wawancara eksklusif dengan Sky News, 22 September 2019, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al Jubeir juga mengatakan Arab Saudi berkonsultasi dengan Inggris tentang dukungan militer.

    "Kami memiliki tanggung jawab untuk membela negara kami dan memastikan bahwa tidak ada kerugian yang menimpa negara kami dan rakyat kami," kata Jubeir.

    "Jadi kita akan melakukan apa saja untuk mencegah negara kita dari kerusakan. Mempersiapkan perang? Perang selalu menjadi pilihan terakhir."

    Kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Iran membantah terlibat dalam serangan yang mengguncang produksi minyak Arab Saudi itu. REUTERS/Hamad l Mohammed

    Pernyataan Jubeir datang ketika Komandan Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan kepada media pemerintah Iran bahwa mereka siap merespons segala agresi. "Kesiapan kami untuk menanggapi setiap agresi adalah pasti. Kami tidak akan pernah membiarkan perang memasuki tanah kami. Kami akan mengejar agresor apa pun. Kami akan mengejar setiap agresor. Kami akan terus sampai kehancuran total dari setiap penyerang."

    Jubeir mengatakan Iran telah terlibat dalam perilaku agresif selama 40 tahun. "Mereka telah menghancurkan Lebanon melalui Hizbullah, mereka telah mengirim milisi untuk menghancurkan Suriah, mereka memiliki milisi di Irak, milisi di Yaman dan memberi mereka rudal balistik dan drone."

    "Mereka telah mendirikan sel di berbagai negara Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia untuk menyebabkan serangan teroris."

    Pekan lalu pada 14 September, serangan pesawat drone ke kilang minyak Saudi Aramco memaksa perusahaan minyak nasional Arab Saudi untuk menutup fasilitas Abqaiq dan Khurais.

    Meski serangan itu diklaim oleh sayap militer gerakan Ansar Allah Yaman, atau juga dikenal sebagai Houthi, Arab Saudi dan Amerika Serikat telah menyalahkan Iran, yang dibantah Teheran dengan tegas berulang kali.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.