Arab Saudi Pulihkan Produksi Minyak Pasca Serangan Drone

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas pengolahan minyak mentah Aramco milik Arab Saudi yang meledak dibom militan Houthi. Sumber: REUTERS/Stringer

    Fasilitas pengolahan minyak mentah Aramco milik Arab Saudi yang meledak dibom militan Houthi. Sumber: REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Arab Saudi akan segera memulihkan produksi minyaknya yang hilang akibat serangan drone pada akhir pekan lalu. Negara itu meyakinkan akan mengembalikan produksi minyaknya pada akhir September ini dan memulihkan suplai minyak pada konsumen ke level sebelum serangan terjadi.

    Menurut Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, produksi minyak Arab Saudi rata-rata pada September dan Oktober akan menjadi 9,89 juta barel per hari. Negara itu juga memastikan komitmen mereka pada para konsumen tidak akan mangkir dalam memasok minyak secara penuh sepanjang September ini.

    "Selama dua hari terakhir kami telah menahan dampak kerusakan dan memulihkan lebih dari setengah produksi yang turun akibat serangan teror," kata Pangeran Abdulaziz, Selasa, 17 September 2019, waktu setempat.

    Dia mengatakan Kerajaan Arab Saudi akan mencapai kapasitas 11 juta barel per hari pada akhir September dan 12 juta barel per hari pada akhir November.

    Dua kilang pengolahan minyak mentah terbesar Arab Saudi di Abqaiq dan Khurais yang dikelola oleh perusahaan BUMN Aramco terbakar dalam serangan drone yang diduga dilakukan oleh kelompok radikal Houthi di Yaman. Dua fasilitas pengolahan minyak itu menghasilkan hampir setengah dari total minyak mentah Arab Saudi. 

    Kepala Eksekutif Aramco Amin Nasser mengatakan pihaknya masih dalam proses memperkirakan pekerjaan perbaikan tetapi itu tidak terlalu signifikan.

    "Kita harus berada di produksi kita (level) sebelum serangan terhadap fasilitas kita," kata Nasser.

    Diperlukan waktu tujuh jam untuk memadamkan fasilitas pengolahan minyak Abqaiq dan Khurais. Serangan drone ini juga dijadwalkan tidak mengganggu rencana IPO Aramco pada tahun depan.

    REUTERS - MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.