Aktivis Hong Kong Minta Bantuan ke Amerika Serikat

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan pemimpin gerakan mahasiswa Joshua Wong keluar dari penjara setelah dipenjara karena perannya dalam protes

    Mantan pemimpin gerakan mahasiswa Joshua Wong keluar dari penjara setelah dipenjara karena perannya dalam protes "Gerakan Payung", di Hong Kong, Cina, 17 Juni 2019.[REUTERS / Tyrone Siu]

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivis demokrasi Hong Kong Denise Ho dan Joshua Wong pada Selasa, 17 September 2019, mendesak anggota Kongres Amerika Serikat yang sedang melakukan pertemuan di Cina agar meloloskan rancangan undang-undang atau RUU pencegahan pelanggaran HAM di Hong Kong. Permintaan kedua aktivis ini akan menjadi sebuah gerakan tak sepantasnya bagi Amerika Serikat masuk ke teritorial urusan negara lain. 

    “Ini bukan permohonan untuk apa yang disebut sebagai campur tangan asing. Ini adalah permohonan untuk demokrasi,” kata Ho, penyanyi dan aktivis, mencoba meyakinkan dalam sidang Komisi Kongres-Eksekutif Amerika Serikat untuk Cina.

    Komisi Kongres-Eksekutif Amerika Serikat untuk Cina diantaranya terdiri dari anggota Senat dan DPR dari Partai Demokrat dan Partai Republik Amerika Serikat. Komisi itu juga didesak agar mengambil tindakan yang mungkin bisa mempengaruhi Hong Kong.

    "Beijing tidak seharusnya mengambil manfaat ekonomi Hong Kong dan saat yang sama menghapus identitas sosial politik kami," kata Joshua Wong, Sekjen Partai Demosisto, Hong Kong dan Ketua Gerakan Payung.   

    Hong Kong merupakan wilayah bekas jajahan Inggris itu. Dalam tiga bulan terakhir wilayah itu diguncang unjuk rasa yang kadang berujung dengan kekerasan.

    Hong Kong diserahkan ke Cina pada 1997 di bawah aturan satu negara, dua sistem, dimana lewat aturan ini masyarakat Hong Kong bisa mendapatkan kebebasan yang tidak dinikmati masyarakat Cina. Lewat sistem itu, Hong Kong juga memiliki sistem hukum independen. Saat Hong Kong diserahkan ke Cina pada 1997, Beijing berjanji akan menjamin kebebasan berpendapat masyarakat Hong Kong selama 50 tahun.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang telah melakukan perang dagang dengan China selama lebih dari setahun, menyarankan Cina agar secara manusiawi menyelesaikan masalah ini (unjuk rasa di Hong Kong) sebelum mengunci sebuah kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.

    "Mudah-mudahan kita akan dapat meloloskan RUU ini sehingga bisa menjelaskan pada rezim di Beijing akan pentingnya sebuah nilai demokrasi," kata Senator Angus King, dari kubu independen Amerika Serikat.

    Unjuk rasa di Hong Kong dipicu oleh RUU ekstradisi, yang sekarang sudah ditarik. Dalam RUU itu, para pelaku kriminal bakal dikirim ke Cina untuk menjalani peradilan di sana.

    REUTERS - MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.