Trump Enggan Berperang Soal Serangan Kilang Arab Saudi, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump menyambut kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 20 Maret 2018. Lawatan Mohammed bin Salman diperkirakan akan berbicara soal ancaman Iran, termasuk pengaruh dan pengembangan program nuklir Negeri Mullah itu. (AP Photo/Evan Vucci)

    Presiden Donald Trump menyambut kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 20 Maret 2018. Lawatan Mohammed bin Salman diperkirakan akan berbicara soal ancaman Iran, termasuk pengaruh dan pengembangan program nuklir Negeri Mullah itu. (AP Photo/Evan Vucci)

    TEMPO.COWashington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan Iran tampaknya berada dibalik serangan ke fasilitas pengolahan minyak milik Arab Saudi.

    Namun, Trump menekankan dia tidak akan berperang terhadap Iran pasca serangan yang mengakibatkan harga minyak bumi dunia naik dan menimbulkan kekhawatiran meningkatnya konflik di Timur Tengah.

    “Tampaknya saat ini seperti itu,” kata Trump soal kemungkinan Iran berada di balik serangan terhadap kilang Arab Saudi seperti dilansir Reuters pada Senin, 16 September 2019.

    Trump melanjutkan,”Saya adalah seseorang yang lebih suka tidak berperang.”

    Sejak menjabat, Trump secara terbuka berusaha mengakhiri perang yang melibatkan AS di beberapa negara seperti Afganistan, Irak dan Suriah.

    Hubungan AS dan Iran memburuk sejak Trump memutuskan keluar dari perjanjian nuklir 2015. Trump mengenakan sanksi baru terhadap Iran soal program nuklir dan rudal balistik.

    Washington juga ingin mengakhiri peran Iran dalam berbagai konflik di Timur Tengah seperti mendukung milisi Houthi di Yaman melawan pasukan dukungan Arab Saudi.

    Trump mengatakan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, bakal segera berangkat ke Arab Saudi soal ini. Pompeo dan beberapa pejabat AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap kilang minyak Saudi.

    Soal ini, pemerintah Iran membantah terlibat dalam ledakan yang terjadi di dua provinsi di Saudi.

    Menurut Trump, AS tidak terburu-buru untuk berperang dengan Iran. “Kita banyak opsi tapi saya tidak sedang melihat opsi saat ini. Kami ingin mencari tahu secara pasti siapa pelaku serangan,” kata dia.

    Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan serangan itu dilakukan oleh sekelompok orang Yaman yang membalas serangan militer Arab Saudi dalam perang melawan Houthi.

    “Rakyat Yaman menggunakan hak legitimasi mereka untuk membela diri,” kata Rouhani saat berkunjung ke Ankara.

    Soal tuduhan AS ini, juru bicara Kemenlu Iran, Abbas Mousavi, mengatakan tuduhan itu sebagai,”Tidak bisa diterima dan sama sekali tidak memiliki dasar.”

    Secara terpisah, Chief Executive Chevron, Michael Wirth, mengatakan serangan terhadap kilang minyak Saudi tidak akan berdampak banyak pada produksi minyak AS dalam jangka pendek.

    Dia juga mengomentari kemungkinan terjadinya perang skala besar di Timur Tengah bisa mendorong harga minyak mentah. Dia enggan mengomentari dampak serangan ini terhadap rencana penawaran saham perdana Saudi Aramco, yang sedang dalam persiapan ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.