Cina Beri Rp 7 T, Solomon Putuskan Hubungan dengan Taiwan

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di pantai Xiaoyeliou di Provinsi Taitung, Taiwan. TEMPO | Nur Alfiyah

    Suasana di pantai Xiaoyeliou di Provinsi Taitung, Taiwan. TEMPO | Nur Alfiyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Solomon Islands memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan setelah menerima bantuan dana segar dari Cina sebesar US$ 500 juta atau setara dengan Rp 7 triliun.

    Mengakhiri hubungan diplomatik dengan Taiwan, negara mungil di kawasan Pasifik ini kini membuka hubungan diplomatik dengan Cina.

    Menurut laporan Taiwan News, 16 September 2019, pertemuan kaukus Perdana Menteri Solomon Islands, Manasseh Damukana Sogavare yang berjumlah 33 anggota tak satupun memilih tetap bersahabat dengan Taiwan.

    Keputusan kaukus itu kemudian dipakai pemerintah Solomon Islands membuat keputusan resmi untuk memutukan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan membuka hubungan diplomatik dengan Cina.

    Dalam upaya terakhir, Kementerian Luar Negeri Taiwan mengirim delegasi yang dipimpin Deputi Menteri Luar Negeri Hsu Szu-chien untuk berusaha membujuk negara kepulaian Pasifik Selatan itu untuk tetap berada di pihak Taiwan.

    Hasil akhirnya, 27 anggota kaukus memilih berteman dengan Cina dan 6 memilih abstain.

    Mengetahui hasil akhirnya begitu, Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan Taiwan menyesalkan putusan kabinet Solomon Islands.

    Wu mengatakan, pemerintah Cina menggunakan cara diplomatik dan uang untuk menyerang Taiwan, menyakiti rakyat Taiwan dan perlahan menggerus kedaulatan Taiwan.

    Cina melakukan pendekatan ke Solomon Islands untuk memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan menjelang Taiwan melakukan pemilihan umum pada tahun depan, 2020.

    Delegasi Solomon Island memfinalisasi pemberian paket dana bantuan US$ 500 juta dari Bejing dalam kunjungan rutinnya pada Agustus lalu.

    Tidak seluruh pejabat Solomon Islands mendukung negara itu membangun hubungan diplomatik dengan Cina.

    Anggota parlemen yang juga Kepala Komisi Hubungan Luar Negeri, Peter Kenilorea dalam pernyataannya hari Minggu lalu menyampaikan keprihatinannya dengan semakin menguatnya pengaruh Cina di wilayah Pasifik.

    Kenilorea meminta agar pemerintah Solomon Island tidak buru-buru dengan keputusannya itu.

    Pemimpin provinsi Malaita, Daniel Suidani mengatakan, alasan untuk mendapat lebih banyak bantuan asing dan peluang sehingga Solomon Islands perlu membuka hubungan diplomatik dengan Cina merupakan alasan murahan.

    "Kepemimpinan yang buruk adalah penyebab utama terhalangnya pendanaan dari donor seperti Taiwan untuk menjangkau orang-prang di daerah pedesaan," kata Sudiani.

    Saat ini ada 16 negara yang membangun hubungan diplomatik dengan Taiwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.