Setelah Bentrok Akhir Pekan, Hong Kong Mulai Kembali Normal

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Sektor usaha dan stasiun kereta api bawah tanah di Hong Kong sudah dibuka kembali seperti biasa pada Senin pagi, 16 September 2019. Sebelumnya stasiun kereta bawah tanah dan toko-toko di Hong Kong tutup setelah terjadi kekacauan pada Minggu, 15 September 2019.

    Unjuk rasa yang berujung ricuh pada hari Minggu itu sangat menegangkan. Ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah, yang sebagian besar mengenakan topeng hitam dan topi, berlari di jalan-jalan utama Hong Kong. Mereka kucing-kucingan dengan aparat kepolisian, membakar ban di jalan dan menutup akses jalan-jalan di jantung kota Hong Kong.

    Para demonstran memakai topeng dan topi untuk menutupi identitas mereka.  

    Bentrokan pada Minggu malam itu bukan hanya antara aparat kepolisian dengan pengunjuk rasa anti-pemerintah Hong Kong, tetapi juga bentrokan antar kelompok pendukung Beijing. Perkelahian antar kelompok terjadi di distrik Fortress Hill dan North Point, dua wilayah di timur Hong Kong.

    Demonstran pendukung Beijing kompak memakai kaus putih. Beberapa dari mereka membawa palu, tongkat dan pisau. Mereka bentrok dengan para aktivis anti-pemerintah.

    Polisi akhir turun tangan dan menutup beberapa jalan untuk mencoba memulihkan ketertiban. Terlihat aparat kepolisian menangkap beberapa laki-laki dan perempuan dari kantor yang dikelola oleh asosiasi pro-Beijing.

    Otoritas berwenang bergerak cepat memadamkan api yang disulut demonstran dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan unjuk rasa tersebut, termasuk yang terjadi di Causeway Bay, sebuah kawasan perbelanjaan dan ramai dikunjungi turis.

    Dalam bentrok Minggu malam itu, sekitar 20 pengunjuk rasa bersikap agresif dengan menyerang dua aparat kepolisian. Bukan hanya itu, mereka juga melemparkan bom molotov dan batu bata sehingga mengancam keselamatan aparat kepolisian.

    Sebuah rumah sakit di Hong Kong mengatakan setidaknya 18 orang terluka dan tiga di antaranya mengalami luka serius akibat bentrokan itu.

    Unjuk rasa di Hong Kong awalnya berjalan damai untuk memprotes RUU ekstradisi yang kontroversial yang akan memungkinkan para pelaku kriminal dikirim ke Cina untuk menghadapi peradilan di sana. RUU itu sekarang sudah ditarik, namun unjuk rasa belum berhenti.

    Unjuk rasa di Hong Kong sekarang sudah meluas ke tuntutan lain, diantaranya kebebasan yang lebih luas dan tuntutan penyelidikan independen terhadap kekuatan berlebihan yang dilakukan aparat kepolisian.

    Hampir 1.400 orang ditangkap sejak protes meletup pada Juni 2019. Namun Kepolisian Hong Kong tidak memberikan informasi terbaru tentang jumlah demonstran yang mereka tangkap pada akhir pekan lalu.

    Unjuk rasa di Hong Kong telah berdampak buruk pada perekonomian, dimana Hong Kong menghadapi resesi pertama dalam satu dekade. Jumlah kunjungan wisatawan yang melancong ke Hong Kong turun sampai 40 persen pada Agustus 2019 setelah Bandara Internasional Hong Kong menjadi sasaran para pengunjuk rasa.

    REUTERS - MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.