Boris Johnson Optimis Inggris Bisa Dapat Kesepakatan Brexit

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Minggu, 15 September 2019, mengingatkan beberapa hari ke depan akan menjadi waktu krusial bagi Inggris untuk mendapatkan kesepakatan Brexit. Johnson pun meyakinkan, mendapatkan kesepakatan dengan Uni Eropa masih menjadi tujuan utamanya dan hal ini masih mungkin diwujudkan.

    Rencananya, Johnson akan bertolak ke Luksemburg pada Senin, 16 September 2019, waktu setempat untuk bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Johnson juga akan menyampaikan pandangannya demi memenangkan kesepakatan Brexit pada pertemuan puncak para pemimpin Uni Eropa pada 17-18 Oktober 2019.

    “Jika kita dapat membuat kemajuan yang cukup dalam beberapa hari ke depan, saya akan pergi ke pertemuan Uni Eropa yang penting itu pada 17 Oktober, dan menyelesaikan perjanjian yang akan melindungi kepentingan bisnis dan seluruh masyarakat, termasuk masalah perbatasan Inggris- Irlandia. Saya percaya dengan penuh semangat kita bisa melakukannya, dan saya percaya membuat kesepakatan dengan Uni Eropa seperti yang diinginkan banyak pihak bukan hanya untuk kepentingan Inggris tetapi juga Eropa,” kata Johnson.

    Johnson dan para menterinya dalam beberapa hari terakhir membicarakan kemajuan dalam negosiasi dengan Brussels, tetapi pihak Uni Eropa secara konsisten terdengar pesimis saat Inggris memunculkan ide-ide baru.

    Sejak berkuasa pada Juli 2019, Perdana Menteri Johnson telah melakukan negosiasi yang lebih keras. Dia bersumpah bahwa Inggris siap angkat kaki dari Uni Eropa tanpa kesepakatan jika memang harus.

    Johnson pun saat yang sama meningkatkan persiapan untuk mengurangi kemungkinan kekurangan pasokan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan yang bakal terdampak pada hasil negosiasi Brexit.

    "Ini bukan dan tidak pernah menjadi hasil yang saya inginkan, tetapi persiapan kami sekarang sangat luas. Ya mungkin ada kesulitan di depan, tetapi kita akan mengatasi semuanya," kata Johnson.

    Namun demikian, dia belum menyampaikan secara terbuka tentang bagaimana menyelesaikan masalah perbatasan Irlandia Utara - Inggris. Jalan yang hendak ditempuh Johnson saat ini sangat dibatasi oleh parlemen Inggris, yang mengesahkan undang-undang demi mencegah no-deal Brexit.

    Inggris memiliki waktu kurang dari tujuh pekan pada masa jatuh tempo Inggris benar-benar meninggalkan Uni Eropa. Sampai Minggu, 15 September 2019, Johnson belum mencapai kesepakatan dengan Brussels untuk mengelola perceraian Inggris dari lembaga terbesar di Eropa itu. Kasus keluarnya anggota Uni Eropa dari lembaga itu belum pernah terjadi sebelumnya. 

    Inggris adalah negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia dan salah satu mitra dagang terbesar Eropa. Pada 2016, masyarakat Inggris melalui referendum memutuskan keluar dari Uni Eropa. 

    Perdana Menteri Johnson telah berjanji meninggalkan Uni Eropa dengan atau tanpa kesepakatan per 31 Oktober 2019, meskipun anggota parlemen Inggris telah mengesahkan undang-undang yang akan memaksanya untuk meminta penundaan keluarnya Inggris dari tanggal tersebut jika tidak tercapai no-deal Brexit.

    REUTERS - MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.