Kilang Minyak Diserang, Mohammed bin Salman: Kami Bisa Atasi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra Mahkota  Mohammed bin Salman. Sumber: AFP/Andrew Caballero-Reynolds/Pool/asiatimes.com

    Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Sumber: AFP/Andrew Caballero-Reynolds/Pool/asiatimes.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertelepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pasca-serangan drone di dua kilang pengolahan minyak terbesar Arab Saudi oleh kelompok radikal Houthi dari Yaman.

    Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) mewartakan dalam pembicaraan itu, Putra Mahkota mengutarakan mampu dan bisa merespon serangan yang merusak fasilitas pengolahan minyak negaranya. Dua fasilitas minyak itu milik Saudi Aramco, sebuah BUMN Kerajaan Arab Saudi. Serangan drone itu memicu kebakaran hebat dan diproyeksi bisa mengganggu suplai energi dunia.

    "Kerajaan Arab Saudi mampu dan bisa mengatasi masalah ini dan menangani serangan terorisme ini," kata Mohammed bin Salman kepada Trump lewat sambungan telepon, Sabtu, 14 September 2019.

    Fasilitas pengolahan minyak mentah Aramco milik Arab Saudi yang meledak dibom militan Houthi. Sumber: REUTERS/Stringer

    Dikutip dari aljazeera.com, Senin, 16 September 2019, kelompok radikal Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan pada Sabtu pagi waktu setempat dengan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone. Serangan itu membuat fasilitas pengolahan minyak mentah Abqaiq dan Khurais langsung terbakar. Fasilitas pengolahan minyak Abqaiq adalah salah satu yang terbesar di dunia yang mengolah minyak secara komplek.

    Serangan itu bisa memangkas suplai minyak Arab Saudi ke pasar minyak dunia sekitar 5,7 juta barel per hari atau sekitar 50 persen dari output-nya. Arab Saudi saat ini melakukan langkah-langkah persiapan untuk hal yang tidak terduga akibat serangan ini. Arab Saudi adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.