Boris Johnson Ingin Kembali Serukan Pemilu Dadakan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Roger Harris/Handout via REUTERS]

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Roger Harris/Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Senin, 9 September 2019, akan mencoba untuk kedua kalinya menyerukan pemilu dadakan, namun keinginan ini kemungkinan bakal digagalkan sekali lagi oleh anggota parlemen dari kubu oposisi yang ingin memastikan Johson tidak bisa membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

    Johnson menginginkan diselenggarakan pemilu dadakan dengan harapan bisa tetap memenuhi janjinya membawa Inggris keluar dari Uni Eropa per 31 Oktober 2019, dengan atau tanpa kesepakatan. Johnson berasal dari Partai Konservatif dan posisi partai itu di parlemen Inggris saat ini sudah tidak lagi mayoritas setelah 21 anggota parlemen Partai Konservatif Inggris membelot ke oposisi.  

    Pada Senin, 9 September 2019, waktu setempat, Johnson dihadapkan pada sebuah RUU yang akan menjadi undang-undang yang berisi permintaan kepada Uni Eropa agar memperpanjang sampai tiga bulan batas waktu angkat kaki Inggris dari Uni Eropa, jika tidak pada 19 Oktober 2019 parlemen Inggris harus memutuskan apakah setuju  Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

    Kesepakatan Inggris dan Uni Eropa soal Brexit penting untuk mencegah kekhawatiran para pelaku usaha terkait kondisi yang akan terjadi setelah Inggris tidak lagi menjadi anggota Uni Eropa. Johnson mengatakan lebih baik mati di selokan ketimbang meminta perpanjangan waktu tiga bulan kepada Uni Eropa untuk keluarnya Inggris dari organisasi itu. Dia berharap pemilu bisa dilakukan pada 15 Oktober 2019.

    Rencananya pada Senin, 9 September 2019, Johnson akan memasukkan sebuah mosi ke parlemen agar keinginannya soal penyelenggaraan pemilu dadakan, namun hal itu membutuhkan dukungan dua per tiga parlemen dan partai-partai oposisi Inggris sudah mengatakan mereka tidak akan menyetujui pemilu dadakan hingga keluarnya Inggris tanpa kesepakatan dari Uni Eropa dicoret.

    Inggris melakukan referendum keluar dari Uni Eropa pada 2016 dan situasi saat ini telah membuat Inggris terkatung-katung dalam dilema soal bagaimana hubungan ekonomi dan politik negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.