ISIS Mulai Gunakan Sapi Sebagai Pembom Bunuh Diri

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor sapi merumput di sebelah kendaraan Polisi Federal Irak yang diparkir untuk melawan ISIS di Mosul.[REUTERS / ANDRES MARTINEZ CASARES]

    Seekor sapi merumput di sebelah kendaraan Polisi Federal Irak yang diparkir untuk melawan ISIS di Mosul.[REUTERS / ANDRES MARTINEZ CASARES]

    TEMPO.CO, Jakarta - ISIS kekurangan anggota untuk melakukan teror bom bunuh diri sehingga mereka mulai memakai taktik teror baru, yakni menggunakan sapi sebagai pembom bunuh diri.

    Taktik baru ISIS berdasarkan keterangan penduduk Al Islah di Irak. Menurut laporan New York Times, 4 September 2019, mereka menyaksikan pemandangan aneh, melihat dua sapi terpasang rompi bom bunuh diri di sisi utara desa, menurut Kolonel Ghalib Al Atyia, juru bicara kepolisian Provinsi Diyala.

    Hewan-hewan itu berkeliaran di pinggiran permukiman, dan ketika mereka tampak dekat dengan rumah-rumah, bom-bom itu diledakkan dari jarak jauh, membunuh sapi dan merusak rumah-rumah di sekitarnya, tetapi tidak membahayakan siapa pun, kata Kolonel Al-Atyia.

    Menurut penilaian kolonel, serangan itu mengisyaratkan bahwa ISIS, yang anggotanya berkurang tajam setelah empat tahun bertempur melawan pasukan keamanan Irak yang didukung oleh pasukan khusus Amerika, mulai menggunakan metode yang tidak konvensional karena mereka kekurangan sumber daya manusia.

    Tetap saja menggunakan sapi untuk mengirim bom adalah strategi aneh di Irak, di mana hewan dihargai untuk daging dan susu. Seekor sapi dapat dengan mudah dibeli dengan US$ 1.200 (Rp 17 juta) atau lebih, dan tidak ada seorang pun di daerah itu yang ingat pernah melihat seekor sapi dikirim untuk jadi pembom bunuh diri sedemikian rupa, kata beberapa saksi mata.

    Sapi-sapi itu disumbangkan ke ISIS oleh desa-desa di daerah itu yang dianggap ramah terhadap perlawanan mereka, kata pejabat keamanan di Komando Polisi Diyala.

    Penggunaan hewan sebagai jebakan bukanlah hal baru. Selama perang saudara di Irak dari 2003 hingga 2009, para pemberontak yang menyebut diri mereka Al Qaeda di Irak menempatkan bom di dalam dan di bawah ternak mati, menyasar warga yang mencoba membersihkan bangkai hewan.

    Kolonel Al Atyia menggambarkan serangan itu sebagai pertanda bahwa masih ada kelompok ISIS di wilayah itu. Memasukkan bom ke sapi dan mengirimnya ke desa berarti operasi ISIS cukup dekat untuk melepaskan sapi di dekat pintu masuknya tanpa tertangkap dan mampu memantau cukup dekat untuk meledakkan bom bunuh diri, kata kolonel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.