Boris Johnson: Lebih Baik Mati di Selokan Daripada Menunda Brexit

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Roger Harris/Handout via REUTERS]

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Roger Harris/Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjanji pada hari Kamis bahwa dia tidak akan pernah menunda keluarnya Inggris dari Uni Eropa melalui Brexit karena pada 31 Oktober, dengan mengatakan dia lebih suka mati di selokan daripada melakukannya.

    "Ya, saya bisa. Saya lebih baik mati di selokan," kata Johnson dikutip dari Reuters, 6 September 2019, ketika dia ditanya apakah akan menunda Brexit.

    "Ini sama sekali tidak mencapai apa-apa. Apa sebenarnya inti dari penundaan lebih lanjut," tambahnya, berbicara setelah berpidato di kantor polisi di Inggris utara.

    Pidato yang dia berikan di Wakefield, di Inggris utara, pada hari Kamis mengejutkan mengingat reputasi Johnson sebagai orator.

    Pidato gurauan Johnson datar, dan dia tampak tidak siap, melompat dari satu topik ke topik lainnya, menurut laporan CNN. Johnson berbicara sambil berdiri di depan sekelompok rekrutan polisi, upaya untuk menyoroti janji pemerintahnya untuk berinvestasi dalam kepolisian. Pada satu titik, ia melontarkan apa yang tampak seperti kata-kata kepada polisi, tetapi menjadi bingung dan meninggalkan topik pembicaraan.

    Ketika undang-undang untuk mencegah Brexit tanpa kesepakatan lolos pada hari Kamis, anggota parlemen Inggris mulai menarik garis pertempuran untuk tahap berikutnya, yakni kapan harus mengadakan pemilihan umum yang sekarang tidak dapat dihindari.

    Anggota parlemen oposisi sejauh ini memblokir rencana Perdana Menteri Boris Johnson untuk pemilihan dini pada pertengahan Oktober, tetapi pemerintah mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka akan mengadakan pemungutan suara parlemen lain pada pemilihan dini pada hari Senin.

    Hal itu menimbulkan bentrokan signifikan ketika pemilih Inggris akan memutuskan siapa yang harus menangani kepergian Inggris dari Uni Eropa, di mana anggota parlemen oposisi dari Partai Buruh sedang memanfaatkan peluang untuk mengambil kendali dari pemerintahan Johnson yang lemah.

    Dikutip dari New York Times, Boris Johnson melihat pemilihan sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan mayoritas yang stabil untuk Partai Konservatifnya di Parlemen dan mengamankan mandat untuk menarik Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan yang mengatur hubungan di masa depan.

    Agar tetap ada kemungkinan menarik Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober, Johnson ingin mengadakan pemilihan secepat mungkin. Tetapi anggota parlemen oposisi enggan untuk membiarkan dia menjadwalkan pemilihan dengan persyaratannya. Beberapa dari anggota parlemen Inggris beralasan bahwa menunda pemungutan suara hingga November akan memaksa Boris Johnson untuk mematuhi undang-undang yang melarang Brexit tanpa kesepakatan dan meminta penundaan di Brussel, sehingga melanggar janji masa jabatannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.