Mohammad Javad Zarif: Iran Bisa Mandiri Tanpa Kesepakatan Nuklir

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mohammad Javad Zarif melepaskan jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Iran, Senin, 25 Februari 2019. Sumber: Tehran Times

    Mohammad Javad Zarif melepaskan jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Iran, Senin, 25 Februari 2019. Sumber: Tehran Times

    TEMPO.CO, Jakarta - Iran cukup bisa mandiri dan bertahan tanpa kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA, namun jika negara-negara Eropa merasa tidak aman, maka kesepakatan itu tidak akan berumur panjang dengan sikap Amerika Serikat yang seenaknya.

    “Negara-negara Eropa harus tahu kalau Amerika Serikat kebiasaan melanggar hukum internasional, kapan pun – dimana pun yang menguntungkan mereka. Ini (kesepakatan bersama) tidak akan menghentikan mereka. Kebiasaan melakukan perundungan hanya akan tumbuh jika mereka tidak melihat adanya reaksi,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, seperti dikutip dari rt.com, Rabu,  4 September 2019.

    Demonstran membakar bendera AS saat melakukan aksi protes setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional di Tehran, Iran,9 Mei 2018. AP

    Negara-negara Eropa ingin kesepakatan nuklir Iran 2015 atau yang bernama Joint Comprehensive Plan of Action tetap hidup. Namun Washington terus memberikan tekanan pada Eropa agar memutuskan hubungan kerja sama dengan Iran selama Badan Energi Atom Internasional atau IAEA melakukan evaluasi berulang terhadap pelaksanaan komitmen Iran pada kesepakatan nuklir 2015.    

    Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran setahun lalu. Saat yang sama, Amerika Serikat juga memberlakukan kembali sanksi ekonomi pada Iran dan berjanji akan menekan industri minyak Iran yang selama ini menjadi sumber pendapatan negara itu. Menanggapi tekanan ini, Zarif mengatakan negaranya berhasil mengatasinya dan bisa bangkit lagi meskipun dia mengakui sanksi ini sangat menciderai perekonomian negaranya.

    “Iran sudah pernah mengalami ini sebelumnya selama 40 tahun hidup dalam tekanan dan kami akan membangun masa depan kami dengan atau tanpa kesepakatan nukir 2015. Pakta adalah sebuah pencapaian penting yang seharusnya tidak boleh dihancurkan dan kematian ini (kesepatan nuklir 2015) sungguh disayangkan yang akan menghancurkan diplomasi, bukan Iran,” kata Zarif.

    Belum lama ini, Iran telah memberikan sinyalemen siap melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat, namun dengan syarat negara itu harus mencabut dulu semua sanksi yang dijatuhkan kepada Iran. Zarif mengatakan pihaknya tidak akan pernah mau bernegosiasi di bawah tekanan dan tidak mau bernegosiasi ketika mengetahui hasil seluruh negosiasi ini hanya akan bertahan bagi satu pemerintahan presiden.           


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.