Boris Johnson Kalah oleh Parlemen Inggris, Ingin Pemilu Dini

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Jessica Taylor/Handout via REUTERS]

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di House of Commons di London, Inggris 3 September 2019.[UK Parliament/Jessica Taylor/Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta -  Anggota parlemen Inggris mengalahkan Boris Johnson dalam mosi tidak percaya pada hari Selasa dalam upaya untuk mencegah Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan Brexit.

    Merespons kekalahannya di parlemen, Boris Johnson berjanji akan mengupayakan pemilu dini.

    Menurut laporan Reuters, 3 September 2019, pemerintahan Johnson kalah 328 berbanding 301 suara dalam pemungutan suara mosi tidak percaya, meski penentang Johnson dari partainya sendiri diperingatkan akan dipecat dari Partai Konservatif jika melawan Johnson.

    Kemenangan parlemen pada Selasa hanyalah rintangan pertama bagi anggota parlemen, memungkinkan mereka untuk mengambil kendali proses Brexit dari pemerintahan.

    Sky News melaporkan ada 21 oposisi Johnson di Partai Konservatif, termasuk nama-nama senior di antaranya Philip Hammond, yang menjadi kanselir sampai enam minggu yang lalu, dan senior lain lain seperti Ken Clarke dan Sir Nicholas Soames, yang merupakan cucu Sir Winston Churchill.

    Pada Rabu kelompok itu akan mencoba mengeluarkan undang-undang yang memaksa Boris Johnson untuk meminta Uni Eropa menunda Brexit jika tidak ada kesepakatan baru yang tercapai pada 19 Oktober, atau anggota parlemen belum mendukung perpisahan tanpa kesepakatan.

    Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh, berbicara tentang Brexit di Wakefield, Inggris, 10 Januari 2019. [REUTERS / Phil Noble]

    Sementara pemerintah Johnson sekarang akan berusaha mengadakan pemungutan suara pada hari Rabu untuk menyetujui pemilihan dini, kemungkinan besar pada 14 Oktober. Ini akan mengadu pendukung keras Brexit melawan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn, seorang sosialis veteran.

    "Dia (Jeremy Corbyn) akan pergi ke Brussels dan memohon perpanjangan waktu. Dia akan menerima apa pun tuntutan Brussels dan kita akan memiliki lebih banyak argumen selama Brexit," kata Johnson.

    Jeremy Corbyn membalas, menyambut hasil kemenangan parlemen karena Inggris hidup dalam demokrasi parlementer.

    "Tidak ada mayoritas untuk tidak ada kesepakatan di negara ini dan tidak ada persetujuan di majelis ini untuk meninggalkan UE tanpa kesepakatan," kata Corbyn.

    Jeremy Corbyn juga mengatakan dia akan mendukung pemilihan tetapi hanya setelah undang-undang itu menyelesaikan semua tahapan yang diperlukan di parlemen untuk tidak memilih Brexit tanpa kesepakatan.

    Jeremy Corbyn telah lama menuntut pemilihan sebagai jalan keluar terbaik dari krisis, tetapi banyak dari mereka yang berusaha mencegah Brexit yang tidak sepakat dan mengatakan bahwa Boris Johnson dapat menentukan waktu pemilihan untuk memastikan bahwa parlemen Inggris tidak dapat mencegah batas waktu perpisahan Brexit pada 31 Oktober, baik dengan atau tanpa sebuah kesepakatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.