Orang Terkaya di Dunia Rugi Ratusan Triliun Akibat Perang Dagang

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jeff Bezos, pendiri Amazon dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan taksiran kekayaan sekitar mencapai US$113 miliar atau sekitar Rp1.607 triliun. Dahulu Jeff pernah bekerja sebagai tukang pipa, juru vaksinasi hewan ternak, dan tukang perbaikan kincir angin di perkebunan atau peternakan. REUTERS/Katherine Taylor/File Photo

    Jeff Bezos, pendiri Amazon dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan taksiran kekayaan sekitar mencapai US$113 miliar atau sekitar Rp1.607 triliun. Dahulu Jeff pernah bekerja sebagai tukang pipa, juru vaksinasi hewan ternak, dan tukang perbaikan kincir angin di perkebunan atau peternakan. REUTERS/Katherine Taylor/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - 10 orang terkaya di dunia kehilangan total 14 miliar dolar AS lebih atau sekitar Rp 200 triliun ketika perang dagang Amerika dan Cina membuat pasar saham Dow Jones anjlok pada 23 Agustus kemarin.

    Saling balas tarif impor antara Donald Trump dan Cina membuat Dow Jones Industrial Average turun 623 poin pada penutupan pasar, menurut data Bloomberg Billionaires Index (BBI), seperti dikutip dari Sputnik, 26 Agustus 2019.

    Kerugian finansial terbesar dialami oleh Jeff Bezos, pendiri dan presiden Amazon.com, yang kekayaannya saat ini diperkirakan mencapai US$ 109 miliar atau Rp 1.553 triliun. Kekayaan Bezos turun sebesar US$ 3,35 miliar (Rp 47,7 triliun), diikuti oleh kerugian sebesar US$ 1,79 miliar (Rp 25,5 triliun) oleh pendiri utama Microsoft, Bill Gates.

    BBI juga melaporkan bahwa pendiri Facebook Mark Zuckerberg dan pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin masing-masing kehilangan US$ 4 miliar lebih atau sekitar Rp 57 triliun. Daftar miliarder lain yang mengalami kerugian finansial besar termasuk ketua eksekutif Oracle Larry Ellison, investor Amerika Steve Ballmer, CEO perusahaan investasi Berkshire Hathaway Warren Buffett, pendiri Dell Technologies Michael Dell dan filantropis Amerika MacKenzie Bezos.

    Penurunan tajam di pasar saham AS terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menulis di Twitter untuk mengumumkan janji balasan tarif impor Cina terhadap barang-barang AS dan memerintahkan perusahaan Amerika pergi dari Cina.

    "Sejumlah besar uang yang dihasilkan dan dicuri oleh Cina dari Amerika Serikat, tahun demi tahun, selama puluhan tahun, akan dan harus BERHENTI. Perusahaan-perusahaan besar Amerika kami dengan ini diperintahkan untuk segera mulai mencari alternatif dari Cina, termasuk membawa perusahaan Anda PULANG dan membuat produk Anda di AS. Saya akan menanggapi Tarif Cina sore ini. Ini adalah peluang HEBAT bagi Amerika Serikat," tulis Trump di Twitter.

    Segera setelah kicauan ini, indeks Dow Jones turun 1,4 persen dan S&P 500 anjlok 44 poin.

    Donald Trump sebelumnya berpendapat bahwa Dow Jones Industrial Average turun 573 poin sebelumnya hari itu terutama terkait dengan pengumuman bahwa Anggota Kongres Demokrat Seth Moulton telah menarik pencalonannya dari pemilihan presiden 2020.

    Setelah Bursa Efek New York ditutup pada tanggal 23 Agustus, Trump mengumumkan putaran tarif baru terhadap Cina melalui Twitter yang akan mencakup tarif impor 30 persen untuk barang dan produk Cina senilai US$ 250 miliar atau Rp 3.563 triliun mulai 1 Oktober.

    Dia juga meningkatkan tarif awal atas impor Cina senilai US$ 300 miliar atau Rp 4.276 triliun yang diperkenalkan pada awal Agustus dari 10 persen menjadi 15 persen.

    Ini merupakab balasan Trump terhadap Cina atas tarif 10 persen dan 5 persen tarif impor yang dikenakan pada barang impor AS senilai US$ 75 miliar atau Rp 1.069 triliun, termasuk gandum, jagung, minyak mentah, dan beberapa industri lainnya masing-masing mulai dari 1 September dan 15 Desember.

    Perang dagang antara AS dan Cina telah meningkat sejak musim panas 2018, ketika Trump memperkenalkan tarif impor Cina US$ 50 miliar (Rp 712 triliun) untuk memperbaiki defisit perdagangan yang ia klaim disebabkan oleh praktik perdagangan Cina yang tidak adil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.