Grup DFS Tutup Penjualan Tembakau dan Minuman Keras di Changi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana nyaman yang dihadirkan pada Terminal 4 Bandara Changi, Singapura, 16 November 2018. Terminal 4 Changi Airport dibangun dengan biaya 723 juta dollar AS atau setara dengan Rp 9,76 triliun (Rate rp 13.500). TEMPO/Fardi Bestari

    Suasana nyaman yang dihadirkan pada Terminal 4 Bandara Changi, Singapura, 16 November 2018. Terminal 4 Changi Airport dibangun dengan biaya 723 juta dollar AS atau setara dengan Rp 9,76 triliun (Rate rp 13.500). TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Grup DFS menutup penjualan tembakau dan minuman keras bebas bea di bandara internasional Changi, Singapura saat kontraknya berakhir pada Juni tahun 2020.

    Keputusan ini diambil setelah pidato Anggaran tahun ini menyebutkan bahwa bebas bea akan dikurangi menjadi dua liter dari tiga liter saat ini.

    Dan mulai Juli 2020, semua produk tembakau di Singapura harus dijual dalam kemasan polos dan mencantumkan peringatan kesehatan yang mencakup sedikitnya 75 persen dari kotak rokok.

    "Perubahan peraturan tentang penjualan minuman keras dan tembakau bertentangan dengan konteks global dari ketidakpastian geopolitik, berarti tinggal di Changi bukan pilihan yang layak secara finansial," kata CEO Grup DFS, Ed Brennan dalam pernyataannya, seperti dilaporkan oleh Channel News Asia, 27 Agustus 2019.

    Wakil ketua grup senior bandara Changi, Teo Chew Hong mengatakan, pihaknya kecewa karena Grup DFS tidak ikut serta dalam tender.

    Hong kemudian memastikan adanya operator baru saat masa transisi untuk kontrak minuman keras dan tembakau.

    Adapun tender akan diumumkan pada akhir 2019. Perusahaan ritel bandara seperti Lotte Duty Free dan The Shilla Duty Free and Gebr Heinema sudah memastikan diri ikut tender.

    Peritel yang menang tender baru tembakau dan minuman keras  akan mengisi 18 toko dengan seluas 8 ribu meter persegi di 4 terminal di bandara Changi. Kontrak baru ini akan berlaku dari 9 juni 2020 hingga 8 Juni 2026.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.