64 Persen Anak Muda di Cina Alami Rambut Rontok karena Stres

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rambut rontok. Shutterstock

    Ilustrasi rambut rontok. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang siswi, 13 tahun, dari sebuah sekolah di wilayah selatan Cina dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya karena mengalami rambut rontok hingga membuatnya nyaris botak. Bulu mata dan alisnya bahkan sudah tidak ada.

    "Pasien datang memakai topi dan terlihat sangat tidak percaya diri," kata Shi Ge, ahli dermatologist dari Rumah Sakit Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, Cina.

    Dikutip dari asiaone.com, Minggu, 25 Agustus 2019, siswi yang tidak dipublikasi namanya itu awalnya bersekolah dengan baik saat duduk di bangku SD, dengan nilai-nilai yang memuaskan. Namun ketika masuk SMP atau sekolah menengah, nilai-nilainya mulai turun.

    Orang tua siswi tersebut telah mendorong putri mereka agar mencetak prestas di sekolah. Walhasil, siswi tersebut mendorong dirinya untuk berusaha lebih keras hingga membuatnya stres dan mengalami kerontokan rambut yang parah.

    Sisa rambut rontok yang tertinggal di sisir.

    Setelah mengalami perawatan medis selama delapan bulan, siswi tersebut mulai tumbuh rambut. Kisah yang dialami siswi tersebut meninggalkan bekas mendalam mengingat saat ini jumlah anak-anak muda di Cina yang menjalani perawatan rambut rontok karena stres meningkat.

    Jia Lijun, seorang dokter di rumah sakit Pengobatan Tradisional Cina, mengatakan selain karena faktor genetik, kerontokan rambut parah bisa terjadi akibat stres di tempat kerja, sekolah dan kehidupan sehari-hari. Stres bisa membuat endocrine menjadi tidak seimbang dan berdampak pada pertumbuhan rambut.

    Pada Januari 2019 sebuah survei yang dilakukan pada 1.900 oleh China Youth Daily menemukan sebanyak 64.1 persen responden yang berusia 18 - 35 tahun mengalami kerontokan rambut karena jam kerja yang terlalu lama dan tidak teratur, insomnia serta stres mental.

    Sedangkan Shi mengatakan jumlah anak-anak muda Cina yang melakukan perawatan rambut rontok ke tempatnya dalam beberapa tahun terakhir meningkat. Mereka yang bekerja di bidang informasi teknologi dan para pekerja kerah putih adalah dua kelompok terbesar yang mengalami kerontokan rambut.

    "Mereka biasanya tidak bisa tidur dengan baik pada malam hari karena tingginya tekanan atau menjalani diet yang tidak teratur karena sering melakukan perjalanan bisnis," kata Shi.

    Survei yang dilakukan Weibo pada Rabu, 21 Agustus 2019, mengungkap 68 persen dari total 47 ribu responden mengaku mengalami kerontokan rambut serius ketika masih bersekolah. Sedangkan 22 persen mengaku mengalami rambut rontok ketika memulai karir dan 5 persen lainnya saat masuk usia pertengahan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.