Demonstran Hong Kong dan Polisi Berhadapan di Kowloon, Tegang

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjuk rasa menghentikan pintu kereta Mass Transit Railway di stasiun MRT Yuen Long, New Territories, Hong Kong, 21 Agustus 2019. Sebulan lalu pengunjuk rasa diserang oleh anggota geng triad di stasiun Yuen Long MTR. REUTERS/Tyrone Siu

    Sejumlah pengunjuk rasa menghentikan pintu kereta Mass Transit Railway di stasiun MRT Yuen Long, New Territories, Hong Kong, 21 Agustus 2019. Sebulan lalu pengunjuk rasa diserang oleh anggota geng triad di stasiun Yuen Long MTR. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.COHong Kong – Ketegangan merebak di Hong Kong pada Sabtu, 24 Agustus 2019. Ini terjadi saat polisi dan demonstran berhadapan di dekat sebuah kantor polisi di area kawasan pekerja di sana.

    Ribuan demonstran mengenakan topi keras dan masker gas berjalan bersama melewati kawasan industri Kwun Tong. Mereka lalu diblokir oleh belasan polisi yang membawa tameng dan tongkat pemukul.

    Demonstran lalu merapatkan barisan sambil menyilangkan tongkat bambu untuk memblokir jalan. Mereka juga meneriaki polisi yang berbaris.

    “Saya belum pernah melihat Hong Kong seperti ini,” kata Dee Cheung, 65 tahun, seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 24 Agustus 2019.

    Dee mengatakan para pemuda yang turun ke jalan berjuang untuk masa depan mereka. “Mereka juga melakukannya untuk Hong Kong,” kata dia.

    Empat stasiun kereta api MTR yang terletak di daerah Kwun Tong, yang merupakan area padat penduduk, ditutup. Area ini terletak di sisi timur dari Semenanjung Kowloon.

    Sebagian pengunjuk rasa membawa payung untuk berlindung dari terik sinar matahari di daerah yang dulunya merupakan koloni Inggris.

    Inggris menyerahkan Hong Kong kembali ke Cina pada 1997 setelah menguasainya selama 99 tahun karena memenangkan Perang Opium.

    Hong Kong mengalami gejolak stabilitas setelah unjuk rasa besar-besaran berlangsung pada Juni 2019. Massa menolak proses amandemen legislasi ekstradisi, yang memungkinkan tersangka kriminal bisa diekstradisi ke Cina.

    Warga belakangan melebarkan desakannya agar Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengundurkan diri karena dinilai pro-Cina. Dia juga dianggap bertanggung jawab atas tindakan keras polisi dalam mengatasi unjuk rasa, seperti dilansir Reuters.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.