Pengalaman 3 Pemuka Agama dari 3 Negara Tinggal Satu Atap

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dino Patti Djalal, kiri, menggagas program The 1.000 Abrahamic Circle bagi para ulama untuk menghapus prasangka terhadap agama lain. Sumber: Suci Sekar/TEMPO

    Dino Patti Djalal, kiri, menggagas program The 1.000 Abrahamic Circle bagi para ulama untuk menghapus prasangka terhadap agama lain. Sumber: Suci Sekar/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga pemuka agama dari tiga agama dan negara berbeda, pada Kamis, 22 Agustus 2019, membagikan pengalaman belajar agama lain dengan cara tinggal satu atap.

    Oji Fahruroji ustad dari Pondok Pesantren Jagad Arsy di Tangerang, Banten, Reverend Ryhan Prasad pendeta dari Gereja Khandallah Presbyterian di Selandia Baru dan Elliot Baskin Rabi umat Yahudi dari Candi Emanuel Denver, Colorado, Amerika Serikat, merupakan peserta angkatan pertama program 'The 1.000 Abrahamic Circle' yang digagas oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Program tersebut total berlangsung selama tiga pekan, dimana masing-masing peserta saling mengunjungi dan menginap di rumah peserta yang dikunjungi selama sepakan untuk mempelajari agama peserta didatangi tersebut.

    Dino Patti Djalal, pendiri FPCI, kiri, Oji Fahruroji ustad dari Pondok Pesantren Jagad Arsy di Indonesia (kedua dari kiri), Reverend Ryhan Prasad pendeta dari Selandia Baru (kanan) dan Elliot Baskin Rabbi umat Yahudi dari Amerika Serikat (kedua dari kanan). Sumber: Suci Sekar/TEMPO

    Oji menjelaskan program ini telah membuatnya bisa berdialog dengan pemeluk agama lain dan menghilangkan prasangkanya selama ini terhadap pemeluk agama lain. Oji melakukan perjalanan ke Colorado, Amerika Serikat dan Selandia Baru serta tinggal satu atap dengan Baskin dan Prasad yang dikunjungi di negara masing-masing. Begitu pula sebaliknya.

    "Saya lahir dan besar di keluarga Islam dan masuk ke sekolah Islam. Jadi pandangan saya hanya soal Islam. Tetapi setelah kenal dengan orang dari agama lain dan lewat dialog saya bisa menemukan prasangka saya rupanya salah soal yahudi. Kami bicara soal konsep Tuhan, konsep surga dan poligami tanpa maksud mendorong agar orang tersebut pindah agama," kata Oji.

    Pandangan serupa juga disampaikan oleh Prasad, pendeta asal Selandia Baru. Dia mengatakan awalnya melihat Islam sebagai hal yang lekat dengan terorisme. Namun setelah tinggal di pesantren tempat Oji mengajar dan mempelajari Islam, dia menemukan Islam tak ada kaitannya dengan terorisme. Sebaliknya, Islam mengajarkan kedamaian.

    "Saya rasa mungkin tak perlu toleransi, tetapi yang ada kita harus lebih menghormati dan memberikan cinta kasih. Politik dan agama bukan hal yang seharusnya dicampur aduk karena itu akan membuat kita tercerai-berai. Kita pun tidak boleh membiarkan ujaran kebencian," kata Rayhan.

    Melalui program 'The 1.000 Abrahamic Circle' Baskin yang seorang Rabbi (pemuka agama Yahudi) menilai pemeluk agama Islam memiliki disiplin yang tinggi. Hal itu ditemukan saat dia tinggal sepekan di Pondok Pesantren Jagat Arsy tempat Oji mengajar.

    "Saya terkesan dengan disiplin umat Islam. Saat masuk waktu solat, mereka langsung mencari mushola dan solat. Masjid Istiklal dirancang oleh aristek yang beragama Kristen Protestan dan di sebrangnya ada Gereja Kathedral, terasa damai melihat ini. Sangat menginspirasi," kata Baskin.

    Dino Patti Djalal, pendiri program 'The 1.000 Abrahamic Circle' FPCI, menjelaskan pihaknya mengadakan program ini diantaranya untuk menghapus pikiran negatif tentang agama lain. Dia tak menampik dulu pernah punya pikiran negatif tentang pemeluk agama tertentu, namun saat punya kesempatan tinggal di rumah pemeluk agama tersebut dan melihat keseharian mereka, pikiran negatif itu pun hilang.

    "Kebebasan beragama itu bagus, tapi sikap saling menghormati itu juga prioritas," kata Dinno.

    Menurutnya, negatifitas antar agama semakin tinggi dan program yang digagas pihaknya memberikan kesempatan pada seorang pemuka agama untuk saling mengenal agama lain lewat cara saling menghormati.

    Hubungan antar iman saat ini masih harus diperbaiki, terlepas dari piagam PBB dan ASEAN. Sebab sekarang yang terjadi serangan teroris telah mengincar agama apapun.

    Para pelaku teror pemeluk suatu agama menyerang tempat ibadah agama lain, seperti teror bom gereja di Surabaya, serangan teror di tiga gereja di Sri Lanka, teror dua masjid di Selandia Baru dan serangan teror Sinagog di Amerika Serikat. Para pelaku teror melancarkan serang secara spesifik pada agama tertentu dan tidak lagi menyerang mall dimana orang dari beragam ras dan agama berkumpul.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.