Kisah 2 Wanita Muslim Anggota Kongres AS Dilarang Masuk Israel

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri ke kanan: anggota Kongres AS Rashida Tlaib, Ilhan Omar, Alexandria Ocasio-Cortez dan Ayanna Pressley mengadakan konferensi pers setelah Demokrat di Kongres AS bergerak untuk secara resmi mengutuk pernyataan Presiden Serangan Donald Trump terhadap empat perempuan kongres minoritas di Capitol Hill di Washington, AS, 15 Juli 2019. REUTERS / Erin Scott

    Dari kiri ke kanan: anggota Kongres AS Rashida Tlaib, Ilhan Omar, Alexandria Ocasio-Cortez dan Ayanna Pressley mengadakan konferensi pers setelah Demokrat di Kongres AS bergerak untuk secara resmi mengutuk pernyataan Presiden Serangan Donald Trump terhadap empat perempuan kongres minoritas di Capitol Hill di Washington, AS, 15 Juli 2019. REUTERS / Erin Scott

    TEMPO.CO, Jakarta - Israel melarang masuk 2 anggota Kongres Amerika Serikat lantaran kritik pedas mereka soal penyelesaian masalah Palestina. Keduanya juga kerap mengkritik kebijakan presiden AS, Donald Trump.

    Berikut 2 anggota Kongres AS dari partai Demokrat yang dilarang masuk ke Israel, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. Mereka berdua merupakan perempuan Muslim pertama terpilih masuk Kongres.

    1. Ilhan Omar.

    Lahir pada 4 Oktober 1981 di Mogadishu, Somalia. Dia dibesarkan di Baydhabo. Omar dan keluarganya berimigrasi ke AS kerika Omar berusia 12 tahun.

    Awal karir politik Omar dimulai pada 2016 ketika Ia menjadi orang AS pertama yang terpilih sebagai anggota legislatif di Minnesota. Omar adalah analis kebijakan yang berpengalaman, aktivis Partai Demokrat – Petani – Buruh (DFL) yang progresif, pembangun koalisi, dan pendidik masyarakat.

    Dia memegang gelar di bidang Administrasi Bisnis, Ilmu Politik dan Internasional. Dia menyelesaikan Beasiswa Kebijakan di Humphrey School of Public Affair University di Minnesota. Omar memiliki pengalaman yang luas dan dia berkarya di banyak lembaga nirlaba.

    Omar telah memperjuangkan sejumlah kebijakan, termasuk upah minimum US$15 dan menghapuskan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS.

    Melalui kerja dan tekadnya, Omar telah menerima banyak penghargaan atas prestasinya, termasuk Penghargaan Hall of Fame Wanita DFL dan Penghargaan Kepemimpinan Komunitas dari Surat Kabar Mshale untuk kepemimpinan yang luar biasa.

    2. Rashida Tlaib.

    Lahir pada 24 Juli 1976 dari keluarga Palestina-Amerika Serikat. Pada 7 Agustus 2018, Tlaib memenangkan pemilihan utama di Michigan. Bagi warga Detroit yang progresif, agamanya bukanlah alasan, namun itu adalah reputasinya karena memiliki komitmen yang teguh terhadap keadilan bagi orang miskin yang terasingkan dari distriknya.

    Ia tumbuh di Detroit Barat Daya, dikelilingi oleh kondisi yang tidak manusiawi yang disebabkan oleh polusi. Dia pikir hal itu normal, seperti halnya keserakahan perusahaan yang melukai banyak pihak. Dengan itu, dia membawa isu-isu seperti ini ke Kongres dan memberikan suara dan pendapat berdasarkan suara dari masyarakat yang sebelumnya tidak didengar oleh pemerintah.

    Tlaib dan Omar telah menyuarakan dukungan untuk gerakan Boikot, Divestasi, Sanksi (BDS) yang pro-Palestina atas kebijakan Israel terhadap Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Di bawah hukum Israel, pendukung BDS dapat ditolak masuk ke Israel.

    THIS IS AFRICA REUTERS IN THESE TIMES MEIDYANA ADITAMA WINAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.