Israel Larang Masuk 2 Anggota Kongres Perempuan Muslim AS

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota parlemen AS, Ilhan Omar. REUTERS

    Anggota parlemen AS, Ilhan Omar. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengeluarkan larangan masuk Israel kepada dua anggota Kongres AS  hanya beberapa jam setelah presiden Donald Trump meminta Israel tidak mengizinkan keduanya masuk.

    "Hanya beberapa hari lalu, kami menerima rencana perjalanan mereka untuk berkunjung ke Israel. yang mengungkapkan tentang mereka merancang kunjungan yang tujuan utamanya untuk memperkuat boikot terhadap kami dan menyangkal legitimasi Israel," kata Netanyahu.

    Tlaib dan Omar merupakan perempuan Muslim AS yang pertama terpilih masuk Kongres. Keduanya merupakan anggota partai Demokrat yang kerap mengkritik kebijakan Israel dan Trump terhadap Palestina.

    Mengutip laporan Reuters, seorang sumber yang ikut dalma rapat konsultasi Netanyahu dngan anggota Kabinet dan penasehat dua pekan sebelum larangan dikeluarkan, mengatakan, Israel mndapat tekanan dari Trump.

    "Dalam diskusi yang diadakan dua pekan lalu semua pejabat menyambut mereka masuk namun, setelah Trump melakukan tekanan, mereka mengubah keputusan," ujar sumber itu.

    Trump melalui akun Twitternya, menulis: Ini akan menunjukkan klmahan besar jika Israel mengizinkan Omar dan Tlaib berkunjung....Mereka itu aib," tulis Trump.

    Trump dalam beberapa bulan terakhir menuding Tlaib, Omar dan dua perempuan lainnya anggota Kongres sebagai skuad yang menyuarakan permusuhan terhadap Israel dengan menyuarakan kritik rasis. Upaya ini juga mnurut Trump, untuk mengumpulkan suara untuk memenangkan pemilu AS pada tahun 2020.

    Israel melarang masuk Tlaib dan Omar setelah mendapat informasi kedua anggota Kongres AS ini berencana berkunjung ke Yerusalem Timur dan Tepi Barat dalam pekan ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.