Meski Ada Sanksi AS, Beberapa Negara Tetap Beli Minyak Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Semburan api pada platform produksi minyak di ladang minyak Soroush, di Teluk Persia, Iran, 25 Juli 2005.[Reuters]

    Semburan api pada platform produksi minyak di ladang minyak Soroush, di Teluk Persia, Iran, 25 Juli 2005.[Reuters]

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina dan beberapa negara tetap membeli minyak dari Iran secara rahasia, meski Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi embargo minyak Iran.

    Investigasi New York Times pada 15 Agustus 2019, melacak pergerakan 70 kapal tanker Iran sejak 2 Mei ketika sanksi Amerika diberlakukan.

    Dua belas tanker memuat minyak setelah 2 Mei dan mengirimkannya ke Cina atau Mediterania Timur, di mana pembeli kemungkinan termasuk Suriah atau Turki. Hanya beberapa dari 12 kapal tanker yang sebelumnya diketahui baru-baru ini mengirimkan minyak Iran, dan seorang analis mengatakan skala pengiriman yang didokumentasikan oleh investigasi New York Times lebih besar daripada yang diketahui secara publik.

    Berdasarkan data MarineTraffic dan Refinitiv, dua layanan pelacakan kapal, serta citra satelit dari Planet Labs dan analisis dari pakar pengiriman dan energi, kapal tanker Iran terlacak.

    Membeli dan mengangkut minyak Iran atau produk terkait bukanlah tindakan ilegal menurut payung hukum internasional. Sanksi minyak Trump, yang terutama mulai berlaku November lalu setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir Iran, bersifat sepihak.

    Pemerintah Trump memberi delapan pemerintah izin untuk terus membeli minyak Iran meski ada sanksi, tetapi mengakhiri pengecualian itu pada 2 Mei.

    Perusahaan asing yang mengabaikan sanksi dan melakukan bisnis dengan perusahaan Amerika atau bank berisiko dihukum oleh Amerika Serikat.

    Inggris sita kapal super tanker milik Iran di perairan Gilbraltar saat berlayar membawa minyak menuju Suriah. [CNN]

    Para pejabat Amerika mengatakan bahwa sanksi ditujukan untuk memotong aliran uang kepada pemerintah Iran untuk memaksa para pemimpinnya melakukan perubahan politik, mengubah kebijakan luar negeri mereka dan menawarkan lebih banyak konsesi pada program nuklir dan rudal negara itu.

    Sementara Iran terus mengekspor minyak, sanksi itu memiliki dampak yang substansial. Pada April 2018, sebelum Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir, Iran mengekspor 2,5 juta barel minyak per hari. Satu tahun kemudian, angka itu mencapai satu juta.

    Dan pada bulan Juni, setelah berakhirnya pengecualian atau keringanan, kapal-kapal di pelabuhan Iran memuat sekitar 500.000 barel per hari, menurut Reid I'Anson, seorang ekonom energi di Kpler, sebuah perusahaan yang melacak komoditas pelayaran.

    Sejak sanksi diberlakukan sepenuhnya pada 2 Mei, permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat di Teluk Persia telah meningkat, meskipun ada upaya oleh negara-negara Eropa untuk mengurangi ketegangan dan membuat Iran mematuhi perjanjian nuklir.

    Jepang dan Korea Selatan, yang takut akan sanksi yang diberlakukan oleh Washington jika mereka melakukan bisnis dengan Iran, telah mematuhi sanksi Amerika. Pejabat Turki mengatakan pada akhir Mei bahwa mereka menghentikan impor minyak Iran tetapi tidak setuju dengan sanksi Amerika.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.