Ketegangan di Kashmir, Malala Khawatirkan Anak-anak dan Perempuan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Malala Yousafzai, penerima Nobel perdamaian, saat pertemuan dengan remaja perempuan Complexo da Penha yang bekerja pada organisasi sepak bola Street Child United di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil, 11 Juli 2018. REUTERS/Ricardo Moraes

    Malala Yousafzai, penerima Nobel perdamaian, saat pertemuan dengan remaja perempuan Complexo da Penha yang bekerja pada organisasi sepak bola Street Child United di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil, 11 Juli 2018. REUTERS/Ricardo Moraes

    TEMPO.CO, Jakarta - Peraih Nobel bidang perdamaian 2014 dan aktivis dari Pakistan, Malala Yousafzai, khawatir pada keamanan anak-anak dan perempuan di Kashmir. Kashmir adalah sebuah wilayah yang masih dipersengketakan oleh India dan Pakistan.

    Pada 5 Agustus 2019, India memutuskan mencabut status istimewa yang selama tujuh dekade di nikmati oleh Kashmir dan Jammu. Kedua wilayah itu sekarang dipecah menjadi dua teritorial berbeda.

    "Masyarakat Kashmir hidup dalam konflik sejak saya kecil, sejak ibu dan ayah saya masih anak-anak, sejak kakek-nenek saya masih muda. Saya sangat khawatir pada keamanan anak-anak di Kashmir dan perempuan di sana. Mereka adalah kelompok orang yang paling rentan terhadap kekerasan dan paling menderita kerugian akibat konflik," kata Yousafzai melalui Twitter, seperti dikutip dari ndtv.com, Kamis, 8 Agustus 2019.


    Dalam kicauannya, Malala, 22 tahun, mendesak komunitas internasional agar memastikan terciptanya perdamaian di kawasan Kashmir. Pernyataan Malala itu disampaikan sehari setelah Pakistan mengusir utusan India untuk Islamabad dan mengumumkan lima rencana, diantaranya menurunkan hubungan bilateral dengan India dan membekukan hubungan perdagangan kedua negara.

    Pakistan juga akan mengajukan banding ke Dewan Keamanan PBB untuk melawan keputusan pemerintah daerah Kashmir.

    Wilayah Jammu dan Kashmir saat ini lumpuh oleh blokade yang belum pernah terjadi sebelumnya. Blokade ini untuk mencegah bentrokan setelah terbitnya dekrtit Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang mengakhiri status daerah istimewa dan membaginya menjadi dua wilayah berbeda. Lebih dari 40 ribu pasukan dikerahkan ke Jammu dan Kashmir dalam seminggu terakhir menyusul keputusan pemerintah India tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.