Pasukan Elit Kyrgyzstan Gagal Tahan Eks Presiden, 1 Tentara Tewas

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev.[REUTERS]

    Mantan presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasukan elit Kyrgyzstan gagal menangkap mantan presiden Almazbek Atambayev di rumahnya setelah para pendukungnya menghadang pasukan di pantai. Satu tentara dilaporkan tewas.

    New York Times melaporkan, 7 Agustus 2019, upaya penangkapan ini menyusul tudingan parlemen yang menuduh Atambayev korupsi, dan mencopot hak imunitasnya dari dakwaan korupsi pada Juni, setelah dia berselisih dengan Presiden Sooronbai Jeenbekov dari Kyrgyzstan, bekas republik Soviet yang bersekutu erat dengan Rusia.

    Komite Keamanan Nasional Kyrgyzstan mengkonfirmasi bahwa pasukan khusus berusaha untuk menahan Atambayev di sebuah desa di luar Bishkek, ibu kota. Komite mengatakan pasukannya menggunakan peluru karet selama penangkapan.

    Sebuah stasiun televisi yang dikendalikan oleh mantan presiden menyiarkan rekaman di mana suara tembakan dapat terdengar, dan orang-orang bersenjata terlihat mengenakan rompi kamuflase dan antipeluru.

    Pasukan keamanan elit Kyrgizstan berusaha untuk menangkap mantan presiden Almazbek Atambayev di rumahnya pada hari Rabu,7 Agustus 2019, tetapi para pendukungnya menahan mereka.[The Moscow Times/TASS]

    Media lokal mengatakan para tentara telah memasuki rumah Pak Atambayev di desa, Koi Tash, ketika helikopter terbang di atas lokasi kejadian.

    Salah satu anggota pasukan keamanan tewas karena luka tembak, kata Kementerian Kesehatan Kyrgyzstan, dan sekitar dua puluh orang terluka.

    Sejak Atambayev kehilangan kekebalannya, polisi telah berulang kali memintanya untuk diinterogasi, yang telah dia tolak. Menolak permintaan tersebut dianggap ilegal. Dia bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dari Rusia di Moskow pada akhir Juli, tetapi dalam sebuah pernyataan sesudahnya, presiden Rusia menyatakan dukungannya kepada Jeenbekov, presiden saat ini. Jeenbekov berkuasa pada tahun 2017 dengan dukungan Atambayev dan mereka dulunya adalah sekutu dekat. Tapi dia menjauhi Atambayev tahun lalu dengan merombak pejabat keamanan senior dan merebut kendali atas partai yang memerintah dari Atambayev.

    Pendukung mantan Presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev menjaga rumahnya selama operasi pasukan keamanan untuk menahan Atambayev, yang dituduh melakukan korupsi. Api terlihat di latar belakang ketika massa menjaga rumahnya di desa Koi Tash dekat Bishkek, Kyrgyzstan 7 Agustus 2019.[REUTERS / Vladimir Pirogov]

    Pada Kamis, Presiden Kyrgyzstan Sooronbai Jeenbekov memerintahkan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan aturan hukum, setelah pasukan keamanan elit gagal menangkap Atambayev, yang mengatakan tuduhan korupsi terhadapnya bermotif politik.

    "Kepala negara berbicara kepada anggota Dewan Keamanan, menekankan perlunya melaksanakan semua tindakan yang bertujuan untuk menjaga supremasi hukum, perdamaian dan keamanan di negara itu, yang menyerukan langkah-langkah mendesak," kata kantor kepresidenan Jeenbekov, dikutip dari Reuters.

    Namun Kantor Kepresidenan tidak memberikan rincian tentang apa yang diperlukan langkah-langkah ini.

    Atambayev adalah presiden Kyrgyzstan sejak Desember 2011 hingga November 2017.

    Setelah dia selesai menjabat presiden, pemerintah menciptakan komisi khusus yang menyimpulkan Atambayev terlibat 6 kejahatan selama masa kepresidenannya, menurut Kabar, kantor berita Kyrgyzstan, seperti dikutip CNN.

    Tuduhan termasuk dugaan korupsi selama rekonstruksi stasiun pembangkit listrik termal ibu kota dan permintaan tanah secara tidak sah untuk membangun rumah tempat tinggalnya.

    Presiden Kyrgyzstan, Sooronbay Jeenbekov, dilaporkan telah menyingkat liburannya dan kembali ke Bishkek setelah mendengar penangkapan Atambayev gagal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.