Militer Filipina Ingatkan Duterte Soal Rencana Investasi Cina

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (kanan), dan Presiden Cina, Xi Jingping (kiri) menjelang penandatanganan di Beijing, Cina, pada Oktober 2016. Reuters

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (kanan), dan Presiden Cina, Xi Jingping (kiri) menjelang penandatanganan di Beijing, Cina, pada Oktober 2016. Reuters

    TEMPO.CO, Manila - Militer memperingatkan pemerintah soal rencana Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, untuk mengizinkan investor asal Cina mengembangkan bisnis di tiga pulau strategis di negara itu.

    Militer beranggapan langkah itu bisa merugikan keamanan dalam negeri Filipina.

    Juru bicara militer, Brigadir Jenderal, Edgard Arevalo, mengatakan pemerintah harus mempelajari implikasi keamanan dengan menyerahkan pengelolaan pulau kepada pihak asing.

    “Tidak ada keraguan pulau-pulau ini memiliki nilai strategis dan berdampak kepada kita jika jatuh ke tangan orang lain. Ketiga pulau ini punya nilai strategis terhadap pertahanan kita,” kata Arevalo dalam jumpa pers seperti dilansir Channel News Asia pada Rabu, 7 Agustus 2019.

    Dia menambahkan,”Walau kami mendukung pertumbuhan ekonomi, kita juga harus mempertimbangkan aspek keamanan yang bisa dirugikan jika gagal mempelajari implikasi menyewakan ketiga pulau kepada orang asing.”

    Duterte menjalin sejumlah kerja sama ekonomi dengan Cina sejak berkuasa pada 2016. Dia juga cenderung mengesampingkan isu kedaulatan wilayah maritim Laut Cina Selatan, yang diklaim secara penuh oleh Cina. Padahal, Filipina memenangkan sidang arbitrase di Hague melawan klaim Cina itu.

    Juru bicara Presiden Filipina, Salvador Panelo, mengatakan memang ada proposal bisnis untuk Pulau Grande dan Chiquita, yang terletak di pntu masuk bekas pangkalan militer AS di Teluk Subic. Juga ada proposal bisnis untuk pulau terpencil Fuga.

    Militer AS meninggalkan pangkalan di Filipina yaitu Subic pada 1992 dan sekarang menjadi pangkalan untuk angkatan laut Filipina.

    Menurut Panelo, seperti dilansir Rappler, rencana investasi itu baru sekadar rencana. Menurut dia,”Menjadi tugas dari militer dan pejabat keamanan untuk memastikan apakah ada isu keamanan nyata terkait ini.”

    Arevalo juga mengatakan militer merasa khawatir dengan semakin banyaknya pekerja asal Cina masuk ke Filipina. Dia juga melaporkan sejumlah turis kedapatan mengambil foto posisi pangkalan angkatan laut. “Kita perlu memastikan apa yang menjadi tujuan mereka sebenarnya di sini,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.