Pengadilan Hukum 11 Tahun Penjara Majikan Terkejam Penyiksa TKI

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Zariah Mohd Ali, 58 tahun, kananm dan Mohamad Dahlan, 60 tahun, kiri, warga negara Singapura yang diduga menyiksa TKI hingga membuatnya cacat. Sumber: ST FILE PHOTO

    Zariah Mohd Ali, 58 tahun, kananm dan Mohamad Dahlan, 60 tahun, kiri, warga negara Singapura yang diduga menyiksa TKI hingga membuatnya cacat. Sumber: ST FILE PHOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Khanifah, 39 tahun, TKI asal Indramayu, Jawa Barat, berfikir orang-orang merasa jijik ketika melihatnya. Ibu dua anak ini sekarang mengalami cacat di telinga bagian kirinya secara permanen, ada bekas luka menonjol di dahinya, bagian belakang kepala dan bahunya. Jari kelingking kirinya terganggu secara fungsional.  

    Luka dan kecacatan itu dialami Khanifah selama enam bulan bekerja sebagai asisten rumah tangga pada keluarga Zariah Mohd Ali, 58 tahun dan Mohamad Dahlan, 60 tahun, di apartemen Woodlands, Singapura.

    Kedua pasangan itu pada 2017 dituntut oleh 12 dakwaan dan pada Kamis, 1 Agustus 2019, Zariah divonis 11 tahun penjara dan membayar uang kompensasi pada Khanifah S$ 56,000 atau Rp 578 juta. Sedangkan Dahlan dijatuhi hukuman penjara 15 bulan dan diminta membayar uang kompensasi pada Khanifah sebesar S$ 1.000 atau Rp 10 juta atau tambahan penjara lima hari.

    Zariah Mohd Ali, 58 tahun, kananm dan Mohamad Dahlan, 60 tahun, kiri, warga negara Singapura yang diduga menyiksa TKI hingga membuatnya cacat. Sumber: ST PHOTO: KUA CHEE SIONG

    Jaksa penuntut menyebut kasus penyiksaan yang dialami Khanifah adalah salah satu penyiksaan terhadap asisten rumah tangga yang terburuk yang pernah terjadi di Singapura. Bukan hanya meninggalkan luka dan kecacatan pada korban, Khanifah jgua mengalami trauma.  

    “Bahkan dalam sesi dengar di pengadilan, ketika saya melihat dia (Zariah), saya merasa ketakutan karena mengingatkan saya pada kejadian penyiksaan. Saya takut akan diserang lagi oleh dia,” kata Khanifah, seperti dikutip dari straitstimes.com, Sabtu, 3 Agustus 2019.  

    Khanifah mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga per November 2011. Akan tetapi Zariah mulai mengomelinya dan menyiksanya secara fisik pada Juni 2012.

    Penyiksaan yang dialami Khanifah di luar peri kemanusiaan. Banyak bagian tubuhnya dilukai dengan benda tajam.

    Selain disiksa secara fisik, Khanifah juga tidak diperbolehkan menggunakan telepon atau menelepon ke kampung halamannya. Dia pun harus bersembunyi ke toilet setiap kali ada tamu ke rumah majinannya itu.          

    Tindak penyiksaan ini terungkap ketika Khanifah akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada 2012. Suaminya curiga karena melihat banyak luka di tubuh istrinya dan melaporkan kepada agen pengerah tenaga kerja (TKI) yang mengirimnya ke Singapura. Dalam pembelaannya, Zariah melakukan penyiksaan terhadap Khanifah karena mengalami depresi setelah dua kali mengalami stroke. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.