Dokter di India Cabut 526 Gigi dari Bocah Usia 7 Tahun

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter gigi di India mencabut 526 gigi yang tumbuh dalam mulut seorang bocah usia 7 tahun [REUTERS]

    Dokter gigi di India mencabut 526 gigi yang tumbuh dalam mulut seorang bocah usia 7 tahun [REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim dokter gigi di India mencabut sebanyak 526 gigi dari dalam mulut seorang bocah usia 7 tahun.

    Gigi sebanyak itu dicabut dari rahang bawah bagian kanan bocah melalui operasi yang dilakukan tim dokter dari rumah sakit Saveetha Dental College and Hospital di kota Chennai, India, seperti dilansir dari The Star, 3 Agustus 2019.

    "Dia datang ke kami mengeluhkan pembengkakan di rahangnya," kata Senthilnathan P, dokter gigi di rumah sakit itu kepada Reuters.

    Ternyata bocah ini memiliki riwayat pembengkakan di rahang sejak usia 3 tahun.

    Menurut Senthilnathan, bocah itu menderita tumor jinak yang biasanya sebagai kondisi genetik. Penyebabnya, bisa faktor eksternal seperti trauma pada gigi.

    Menurut laporan BBC, berat seluruh gigi yang diambil tim dokter dari bocah itu mencapai 200 gram dengan ukuran berbeda antara satu hingga 15 milimeter.

    Bocah ini disebut mengalami kondisi langka yang disebut compound composite odontoma. Penyebabnya belum jelas, namun bisa gabungan dari faktor keturunan dan lingkungan seperti misalnya radiasi dari menara telepon seluler.

    Meski langka, namun ini bukan pertama kali dokter di India mengalami kasus seperti ini. Pada tahun 2014, tim dokter di India melakukan operasi untuk mencabut sebanyak 232 gigi dari pasien berusia 17 tahun.

    Bocah pemilik ratusan gigi itu kini sudah pulih dari operasi yang dilakukan tim dokter  pada Juli lalu. Dia sudah meninggalkan rumah sakit dan mengaku tidak mengalami pembengkakan di rahangnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.