Senat Filipina Ini Dikritik Rodrigo Duterte karena Gemuk

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanan, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kiri anggota senat Dick Gordon. Sumber: Reuters / Eloisa Lopez/rt.com

    Kanan, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kiri anggota senat Dick Gordon. Sumber: Reuters / Eloisa Lopez/rt.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengkritik anggota senat Filipina, Dick Gordon, karena bentuk tubuhnya yang gemuk. Duterte menyebut cara berjalan Gordon seperti seekor penguin dan tidak akan cukup di ambulan karena kelebihan berat badan.

    "Otak saya ada di kepala saya, otak Anda (Gordon) mencair dan masuk ke dalam perut," kata Duterte, Kamis, 31 Juli 2019.

    Dalam ucapannya itu, Duterte juga mengatakan Gordon sebagai rivalnya yang bodoh dan bukan sosok Filipina yang sesungguhnya karena dia separuh kulit putih. Ayah Gordon adalah seoarang politikus lokal keturuan Yahudi - Amerika Serikat, yang pernah menjadi Walikota Olongapo, sebuah wilayah di selatan Filipina.

    Ucapan Duterte itu dilontarkan tak lama setelah Gordon mengkritik pemerintahannya. Menurut Gordon, menempatkan mantan pejabat tinggi militer untuk mengisi posisi-posisi kunci di pemerintahan sangat berbahaya bagi otoritas sipil. Dia pun menyalahkan Duterte karena dinilai tidak cukup tahu orang-orang yang berkualitas di Manila karena asal-usul provinsinya

    Sementara itu terkait ucapan Duterte yang menyinggung bentuk tubuhnya, Gordon mengaku merasa tidak diserang sama sekali oleh kata-kata Duterte. Sebab baginya setiap orang berhak beropini.

    "Saya senang Presiden Duterte mengkhawatirkan ukuran pinggang saya, tapi sebetulnya dia tak harus meresahkan hal itu. Istri saya sudah memperhatikan kalau saya perlu menurunkan berat badan secara signifikan. Namun bagaimana pun saya menghargai dia sudah mengkhawatirkan kesehatan saya," kata Gordon. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.