Mantan PM Israel Minta Maaf atas Pembunuhan 12 Orang Palestina

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Perdana Menteri dan pemimpin partai Demokrat Israel Ehud Barak.[Ynewtnews]

    Mantan Perdana Menteri dan pemimpin partai Demokrat Israel Ehud Barak.[Ynewtnews]

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan perdana menteri Israel Ehud Barak, meminta maaf atas pembunuhan 12 orang Palestina warga Israel selama masa jabatannya.

    Kepada Israeli Public Radio pada 23 Juli, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Ehud Barak mengatakan dia "bertanggung jawab atas apa yang terjadi selama dia menjabat perdana menteri, termasuk peristiwa Oktober," merujuk pada pembunuhan 12 warga Arab-Israel oleh pasukan keamanan Israel, dan satu pemuda Palestina lain setelahnya.

    "Tidak ada tempat bagi para pemrotes untuk dibunuh oleh pasukan keamanan negara mereka," kata Barak. "Saya menyatakan penyesalan dan permintaan maaf saya di depan keluarga dan di hadapan masyarakat Israel."

    Haaretz melaporkan, Ehud Barak meminta maaf pada Selasa kemarin atas pembunuhan yang dilakukan pasukan keamanan terhadap 12 warga Palestina-Israel pada Oktober 2000, peristiwa demonstrasi Intifada kedua yang dipicu kunjungan Ariel Sharon ke Masjid Al Aqsa.

    Bentrokan mematikan, yang terjadi pada hari-hari awal intifada kedua, telah menjadi titik utama perselisihan antara Barak dan warga Arab-Israel. Anggota parlemen Meretz Esawi Freige, yang merupakan keturunan Arab, awal bulan ini menolak untuk bergabung dengan partai Demokrat Israel yang dipimpin Barak menjelang pemilihan 17 September, karena perannya dalam protes Oktober 2000.

    Menyusul insiden tersebut, yang diperingati tahun lalu dalam pawai dan mogok masal, Barak memerintahkan komisi yang dipimpin oleh hakim agung untuk melakukan penyelidikan.

    Komisi mengkritik dalam laporan pejabat senior polisi tahun 2003, tetapi memutuskan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas 13 kematian tidak akan dikenakan dakwaan. Dan dilaporkan pula bahwa Barak tidak memperhatikan masyarakat Arab.

    Itifada kedua.[Ynetnews]

    Abdel Moneim Salah, yang putranya bernama Walid tewas dalam bentrokan di dekat kota utara Sakhnin, menyebut permintaan maaf Barak tidak berarti.

    Barak, kata Salah, adalah yang memberi perintah untuk menembak putranya, sementara mantan perdana menteri atau petugas polisi mana pun yang menggunakan peluru tajam tidak dibawa ke pengadilan.

    Ibrahim Siam, yang putranya bernama Ahmed juga tewas dalam bentrokan di Israel utara, mengatakan kepada Haaretz bahwa dia tidak akan menerima permintaan maaf Barak, yang menurutnya tidak mengubah apa pun.

    "Kami tidak tertarik pada Barak dan pemikiran politiknya," kata Siam. "Saya tidak berpikir masyarakat Arab akan setuju untuk membiarkan Barak kembali terjun ke politik, setidaknya tidak dengan suaranya."

    "Sejauh yang kami ketahui, dialah yang membunuh anak-anak kami dan memberikan perintah, dan ia, seperti halnya perwira dan komandan lainnya, harus berada di balik jeruji besi," tambahnya.

    Kelompok hak asasi manusia Adalah, yang mendukung hak-hak minoritas Arab di Israel dan diwakili di pengadilan keluarga mereka yang tewas, mengatakan Ehud Barak adalah orang yang bertanggung jawab langsung atas kematian warga Palestina-Israel.

    Permintaan maaf Ehud Barak tidak berarti jika tidak ada tuntutan yang diajukan terhadap semua yang bertanggung jawab, termasuk pasukan keamanan Israel yang menggunakan peluru tajam dan tembakan sniper, yang menyebabkan pembunuhan 13 pemuda Palestina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.