Polisi Gugat Wapres Filipina karena Dituduh Mau Gulingkan Duterte

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: Reuters/Lean Daval Jr.

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: Reuters/Lean Daval Jr.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian menuntut sejumlah politisi oposisi Filipina, termasuk wakil presiden, dengan pasal pencemaran nama baik dan rencana menggulingkan Presiden Rodrigo Duterte. Gugatan diajukan pada Jumat kemarin dan semakin meningkatkan tekanan Duterte terhadap pengkritik.

    Tuntutan menargetkan 36 orang, termasuk Wapres Leni Robredo, sejumlah Senator, dan pejabat Katolik, karena kritik tajam mereka terhadap perang narkoba Duterte dan tindakan Duterte lain.

    Menurut laporan New York Times, 19 Juli 2019, gugatan diajukan pada Kamis oleh Kepolisian Nasional Filipina, setelah Robredo dan lainnya berencana untuk mengaitkan Duterte dan keluarganya serta pejabat pemerintahan dengan sindikat narkoba.

    Jika divonis bersalah, mereka bisa dipenjara enam hingga 12 tahun. Sejauh ini belum ada surat penangkapan dilayangkan kepada 36 orang bersangkutan.

    Mereka yang dituntut pada Kamis dituduh berkonspirasi dengan seorang pria yang muncul dalam serangkaian video online yang mengatakan bahwa Duterte memiliki hubungan dengan sindikat narkoba.

    Polisi menangkap pria dalam video, Peter John Advincula, yang kemudian mengatakan kepada penyelidik bahwa dia membuat tuduhan terhadap Duterte untuk mendiskreditkannya dan mengacaukan pemerintahannya dalam komplotan yang dibuat oleh lawan-lawan presiden.

    Juru bicara Duterte, Salvador Panelo, mengatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah menyambut gugatan terhadap wakil presiden dan sekutu politiknya.

    "Sudah waktunya untuk mengetahui kebenaran tentang video ini," kata Panelo. "Sejauh yang kami ketahui, biarkan proses pengadilan melakukan tugasnya."

    Kelompok-kelompok HAM mempertanyakan waktu pengajuan gugatan, yang terjadi hanya empat hari sebelum Duterte akan menyampaikan pidato kenegaraan tahunannya ke Kongres, pada hari Senin. Banyak kelompok, termasuk mereka yang didukung oleh Gereja Katolik Roma yang berpengaruh, diperkirakan akan melakukan protes di jalan-jalan untuk menentang pidato tersebut.

    Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo. lenirobredo.com

    Robredo, seorang pengacara dan mantan legislator, telah mempertanyakan perang narkoba Duterte, yang telah menewaskan lebih dari 6.600 orang dalam tiga tahun terakhir, menurut perkiraan polisi.

    Robredo telah mendukung resolusi oleh Dewan HAM PBB untuk melakukan penyelidikan independen terhadap pembunuhan di luar proses hukum yang dilakukan oleh polisi.

    Sementara Robredo sejauh ini belum membuat pernyataan mengenai tuduhan yang dihadapinya, rekannya telah meminta masyarakat untuk mendukungnya.

    Duterte tidak menyembunyikan kebenciannya terhadap wakil presiden. Dia telah berulang kali mengatakan di depan umum bahwa dia mendukung Ferdinand Marcos Jr., yang kalah dalam pemilihan wakil presiden untuk Robredo tiga tahun lalu. Marcos adalah putra mantan diktator negara itu, Ferdinand E. Marcos.

    Simpatisan Marcos adalah loyalis Duterte dan donor politik untuk kampanyenya. Di antara tindakan pertamanya sebagai presiden adalah memberikan penguburan pahlawan mantan Presiden Marcos.

    Di Filipina, presiden dan wakil presiden dipilih secara terpisah, dan beberapa orang telah menyarankan bahwa gugatan terhadap Robredo adalah cara Rodrigo Duterte untuk menyingkirkannya, dan menjadikan Marcos sebagai wakil presiden Filipina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.