2 WNA yang Ditahan Korea Utara

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Otto Warmbier, berbicara para wartawan saat konferensi pers di Pyongyang, 29 Februari 2016. Pengadilan tinggi Korea Utara (Korut) menjatuhkan hukuman kerja paksa selama 15 tahun terhadap Otto Warmbier. AP/Kim Kwang Hyon

    Otto Warmbier, berbicara para wartawan saat konferensi pers di Pyongyang, 29 Februari 2016. Pengadilan tinggi Korea Utara (Korut) menjatuhkan hukuman kerja paksa selama 15 tahun terhadap Otto Warmbier. AP/Kim Kwang Hyon

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus penahanan pada WNA bernama Alek Sigley, 29 tahun, mahasiswa sastra Korea di Universitas Kim Il Sung kembali membuat Korea Utara mendapat sorotan dunia. Pasalnya ini bukan pertama kali Pyongyang menahan WNA atau warga sipil asing yang sedang berada di negara itu.

    Berikut dua warga negara asing yang pernah ditahan oleh Korea Utara.

    1. Otto Warmbier
    Kasus penahanan terhadap Warmbier, 22 tahun, menyita perhatian publik karena dia dipulangkan ke Amerika Serikat dalam kondisi koma sehingga menimbulkan kecurigaan adanya dugaan penyiksaan. Warmbier adalah mahasiswa Universitas Virginia yang pergi ke Korea Utara pada Januari 2016 untuk liburan.

    Akan tetapi, dia ditangkap dan dituduh melakukan propaganda politik saat diduga menurunkan sebuah spanduk politk. Dia dihukum 15 tahun kerja paksa. Namun pada Juni 2017, dia diterbangkan ke negara asalnya karena mengalami kerusakan otak dan meninggal dunia tepatnya 17 bulan setelah vonis dijatuhkan.

    Baca juga:Korea Utara Menduga Mahasiswa Australia Alek Sigley Mata-mata

    Kenji Fujimoto, koki shushi asal Jepang yang diduga ditahan oleh Korea Utara. Sumber: Aflo/REX/telegraph.co.uk

    Baca juga:Perwakilan Korea Utara di PBB Protes Amerika, Soal Apa?

    2. Kenji Fujimoto
    Dikutip dari telegraph.co.uk, Minggu, 7 Juli 2019, pada akhir Juni lalu muncul kekhawatiran mantan koki untuk kerajaan Korea Utara bernama Kenji Fujimoto telah ditahan oleh Pyongyang. Pasalnya, Fujimoto yang berasal dari Jepang itu, hilang kontak semenjak Februari 2019.

    Hilangnya Fujimoto bersamaan dengan laporan hilangnya Alek Sigley, mahasiswa S2 dari Australia. Namun saat Sigley kembali pulang dalam kondisi sehat, Fujimoto masih belum diketahui keberadaannya.

    Fujimoto diketahui sudah bekerja 13 tahun sebagai koki profesional sushi untuk Kim Jong-il, ayah Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dia bahkan teman bermain Kim Jong Un saat dia masih berusia 7 tahun.

    "Kami masih mengumpulkan dan menganalisa informasi terkait perkembangan yang terjadi di sekitar Korea Utara, namun sudah sewajarnya informasi seperti ini tidak disampaikan secara spesifik," kata sumber di Kementerian Luar Negeri Jepang.

    Sumber tersebut mengkonfirmasi Fujimoto sedang ditahan di Korea Utara. Namun menolak berkomentar di penjara mana Fujimoto berada.

    Pada 2017, Fujimoto memutuskan menetap secara permanen di Korea Utara dan membuka restoran sushi bernama Takahashi. Saat yang sama, Kim Jong Un terus memantau gerak-geriknya yang diduga telah melanggar batas karena berbicara pada Anna Fifield, koresponden Washington Post dan penulis biografi Kim Jong Un berjudul The Great Successor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.