Perang Dagang, Korea Selatan Serukan Boikot Produk Jepang

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Korea Selatan menyerukan perangi produk buatan Jepang sebagai bagian dari perang dagang kedua negara yang semakin memanas. [SOUTH CHINA MORNING POST]

    Warga Korea Selatan menyerukan perangi produk buatan Jepang sebagai bagian dari perang dagang kedua negara yang semakin memanas. [SOUTH CHINA MORNING POST]

    TEMPO.CO, Jakarta -Korea Selatan dan Jepang semakin panas  setelah muncul seruan boikot produk Jepang sebagai bagian dari perang dagang setelah Jepang pekan ini melarang ekspor produk teknologi canggih ke Korea Selatan.

    Melalui petisi online, warga Korea Selatan menyerukan boikot produk Jepang mulai dari mobil, bir, hingga kosmetik.

    Baca juga: Di Tengah Perang Dagang, Cina Impor Beras Perdana dari AS

    Dalam tempo 4 hari sejak diunggah, petisi online yang bertujuan membalas Tokyo atas larangan mengekspor produk hi-tech ke Korea Selatan, telah mendapat dukungan 17 ribu tanda tangan.

    Mengutip laporan South China Morning Post, 4 Juli 2019, petisi itu telah diunggah di situs resmi kepresidenan Blue House pada hari Senin, 1 Juli 2019, tepatnya setelah Jepang mengumumkan larangan mengekspor 3 produk penting yang digunakan perusahaan-perusahaan Korea Selatan untuk membuat panel display dan chips telepon seluler.

    Seoul mengecam larangan ekspor Jepang sebagai balas dendam terhadap ekonomi secara langsung mengingat hubungan kedua negara yang tegang.

    Perusahaa-perusahaan terkemuka Jepang yang berkantor di Korea Selatan tampak gugup dengan seruan boikot masyarakat Korea Selatan.

    "Melanjutkan pemantauan situasi," ujar juru bicara Toyota.

    Baca juga: Empat Negara Diuntungkan dari Perang Dagang Amerika Serikat-Cina

    Sementara Makiko Takahashi, juru bicara perusahaan kosmetik buatan Jepang, mengatakan pihaknya tidak melihat potensi terjadi penurunan penjualan akibat perang dagang kedua negara.

    "Kami punya dua variasi yang tersedia di Korea Selatan, namun tidak ada "Jepang" atau "Tokyo" dalam pemasarannya sehingga sepertinya banyak konsumen tidak akan mengetahui bahwa itu brand merek Jepang," kata Makiko Takahashi.

    "Juga, konsumen kami sebagain besar para remaja dan mereka mungkin kurang peduli tentang sejarah atau isu politik dibandingkan generasi tua, sehingga kamu tidak yakin akan terjadi dampak serius dari boikot merek Jepang," ujarnya.

    Agen perjalanan terbesar Jepang, JTB, tidak begitu mengkhawatirkan dampak dari perang dagang kedua negara.

    Baca juga: Imbas Perang Dagang, Indonesia Berpotensi Jadi Pasar Utama Cina

    Sebagai gambaran, jumlah turis Korea Selatan yang berkunjung ke Jepang tahun lalu mencapai 7,5 juta orang dengan membelanjakan US$ 5,5 miliar.

    "JTB tidak banyak berbisnis dengan para turis Korea yang datang ke Jepan dan kami belum melihat dampaknya. Hubungan antara Jepang dan Korea telah mengalami kesulitan dalam beberapa tahun, namun begitu jumlah warga Korea berkunjung ke sini tetap stabil waktu itu. Kami tidak percaya kami perlu membuat rencana darurat," ujarnya.

    Jepang merupakan pengimpor terbesar kedua ke Korea Selatan setelah Cina dengan nilai produk tahun ini mencapai US$ 54,2 miliar.

    Profesor Lee Wondeok dri Universitas Kookmin mengingatkan, bahwa Jepang memiliki lebih banyak kartu untuk melawan Korea Selatan daripada Korea Selatan melawan Jepang mengingsy ukutsn eknomi mereka dan Seoul mengetahui kenyataan ini dengan sangat baik," ujarnya.

    Wondeok menegaskan, lingkaran setan balas dendam hanya akan menyakiti kedua belah pihak. Dia berharap Korea Selatan dan Jepang menghentikan ketegangan dan menyelesaikan masalah perang dagang kedua negara dengan lancar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.