Migran Diduga Ditembaki saat Kabur dari Serangan Udara di Libya

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang imigran membawa barangnya melewati reruntuhan bangunan di pusat penahanan dan penampungan imigran Afrika yang menjadi sasaran serangan udara, di Tajoura, Libya, Rabu, 3 Juli 2019. REUTERS/Ismail Zitouny

    Seorang imigran membawa barangnya melewati reruntuhan bangunan di pusat penahanan dan penampungan imigran Afrika yang menjadi sasaran serangan udara, di Tajoura, Libya, Rabu, 3 Juli 2019. REUTERS/Ismail Zitouny

    TEMPO.CO, Jakarta - PBB mendapat informasi penjaga Libya menembaki para pengungsi dan migran yang mencoba melarikan diri dari serangan udara yang menewaskan 53 orang, termasuk enam anak-anak, di sebuah pusat penahanan migran.

    Laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengungkap ada dua serangan udara pada Selasa malam kemarin. Satu menghantam garasi tak berpenghuni dan lainnya mengenai sebuah hanggar yang menampung sekitar 120 pengungsi dan migran.

    Baca juga: 44 Tewas dalam Serangan Udara ke Pusat Penahanan Migran Libya

    "Ada laporan bahwa setelah serangan pertama, beberapa pengungsi dan migran ditembaki oleh penjaga ketika mereka mencoba melarikan diri," kata laporan OCHA, dikutip dari Reuters, 5 Juli 2019.

    Kementerian dalam negeri yang berbasis di Tripoli membantah laporan ini.

    Sementara mayat-mayat masih ditemukan dari puing-puing, kata laporan itu, menunjukkan jumlah korban jiwa bisa meningkat.

    Baca juga: Pasukan Khalifa Haftar Serang Drone Turki di Bandara Libya

    Masih ada sekitar 500 orang di pusat penahanan di Tajoura, sebelah timur Tripoli, dengan empat warga Nigeria akan dibebaskan ke kedutaan Nigeria pada hari Kamis dan 31 perempuan dan anak-anak akan dikirim ke fasilitas pengungsi milik AS di Tripoli.

    Menteri Dalam Negeri Libya Fathi Ali Bashagha mengatakan pemerintah Tripoli sedang mempertimbangkan untuk menutup semua pusat penahanan bagi para migran dan membebaskan para tahanan. Ribuan orang ditahan di pusat-pusat detensi di Tripoli.

    Para imigran berkumpul di tanah lapang pasca-serangan udara menggempur pusat penahanan dan penampungan imigran Afrika di Tajoura, Libya, Rabu, 3 Juli 2019. Pasukan antipemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar menuduh bahwa justru militer pendukung pemerintah yang melakukan serangan itu. REUTERS/Ismail Zitouny

    Libya adalah salah satu titik keberangkatan utama bagi para migran Afrika yang melarikan diri dari kemiskinan dan perang untuk mencapai Italia dengan kapal, tetapi banyak dicegat di laut dan dibawa kembali oleh penjaga pantai Libya, dengan persetujuan dari Uni Eropa.

    53 orang yang tewas adalah korban tertinggi yang dilaporkan ke publik dari serangan udara atau penembakan sejak pasukan timur di bawah Jenderal Khalifa Haftar melancarkan serangan darat dan udara tiga bulan lalu untuk merebut Tripoli.

    Baca juga: 6 Warganya Ditahan di Libya, Turki Ancam Serang Pasukan Haftar

    "Jumlah korban sipil yang disebabkan oleh konflik hampir dua kali lipat sebagai akibat dari serangan tunggal ini," kata laporan OCHA, sehari setelah pejabat AS mengatakan serangan udara mungkin merupakan kejahatan perang.

    PBB telah berulang kali mengatakan Libya bukan tempat yang aman bagi migran yang diselamatkan untuk dikirim kembali, dan meminta agar para pengungsi dan migran dibebaskan dan diberi tempat berlindung yang aman.

    Baca juga: 4 Fakta Konflik Perang Saudara di Libya

    PBB enggan secara langsung mengkritik Italia karena menutup pintunya bagi migran, tetapi mengatakan negara-negara Eropa harus membantu menyelesaikan konflik di Libya untuk menghentikan orang-orang yang melakukan perjalanan berbahaya lewat laut.

    Pusat migran dan pengungsi dekat dengan pangkalan militer dan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Libya pada 7 Mei melukai dua orang di pusat detensi, namun otoritas Libya terus mengirim migran dan pengungsi ke pusat itu, meski mengetahui risikonya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.