Zimbabwe Kekurangan Paspor dan Plat Nomor Kendaraan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang kaki lima menawarkan sampul paspor untuk dijual di luar kantor Departemen Dalam Negeri di Harare, Zimbabwe, 2 Juli 2019.[REUTERS]

    Seorang pedagang kaki lima menawarkan sampul paspor untuk dijual di luar kantor Departemen Dalam Negeri di Harare, Zimbabwe, 2 Juli 2019.[REUTERS]

    TEMPO.CO, JakartaZimbabwe kehabisan paspor dan plat nomor registrasi kendaraan, sehingga memaksa warga menunggu waktu yang sangat lama untuk mendapatkannya. Kekurangan paspor dan plat nomor ini menandakan Zimbabwe sedang kekurangan dolar AS.

    Perputaran ekonomi yang diharapkan di bawah Presiden Emmerson Mnangagwa, yang mengambil alih pemerintahan Robert Mugabe setelah kudeta 2017, belum terwujud. Sebaliknya, warga Zimbabwe mengalami kekurangan dolar AS, bahan bakar, roti, dan pemadaman listrik 15 jam, menurut laporan Reuters, 4 Juli 2019.

    Baca juga: Warga Zimbabwe Akhirnya Bebas Mentertawakan Eks Diktator Mugabe

    Pekan lalu, pemerintah mengganti nama mata uang interimnya dolar RTGS menjadi dolar Zimbabwe, dan menjadikannya sebagai satu-satunya alat tukar legal di negara itu. Putusan ini mengakhiri satu dasawarsa dolarisasi dan mengambil langkah lain untuk meluncurkan kembali mata uang negara.

    Di kantor paspor di Harare pada hari Rabu pagi, ratusan orang berkerumun setelah tiba pada pukul 5 pagi untuk mengantre mengajukan paspor. Mereka disuruh memeriksa dokumen mereka pada tahun 2022.

    Ini dikarenakan kertas dan tinta khusus yang digunakan untuk membuat paspor harus diimpor tetapi tidak ada mata uang asing.

    Baca juga: Mugabe, Bagaimana Dia Berkuasa 37 Tahun di Zimbabwe

    Bothwell Mhashu, salah satu yang mengantre, mengatakan dia ingin pergi dari Zimbabwe dan tinggal dengan kakak lelakinya di Namibia. Dia mengajukan paspor pada Juni 2018 dan seharusnya mendapatkan dokumennya setelah tiga bulan.

    "Mereka hanya mengatakan kepada saya bahwa paspor saya belum siap, saya harus memeriksanya lagi di bulan Agustus. Ini tidak adil," kata Mhashu yang sedih ketika meninggalkan kantor paspor.

    Pada 2008, warga Zimbabwe tidur di kantor paspor agas masuk antrean pertama ketika krisis ekonomi dan hiperinflasi menghancurkan mata uang negara itu di bawah Mugabe.

    Paspor biasa berharga 53 dolar Zimbabwe atau US$ 6,32 (Rp 89 ribu), sementara ZW$ 318 diperlukan untuk dokumen darurat 24 jam. Tidak ada paspor darurat yang dikeluarkan kecuali untuk beberapa pejabat senior.

    Panitera Umum Clemence Masango menolak memberikan komentar ketika dihubungi pada Rabu.

    Tetapi para pejabat di kantor registrasi umum mengatakan ada rencana untuk mencetak paspor secara lokal di Fidelity Printers and Refiners milik bank sentral untuk membersihkan tumpukan lebih dari 50.000 pemohon paspor. Hanya saja ini bisa terealisasi jika mereka bisa mengimpor peralatan yang dibutuhkan.

    Baca juga: Diktator Mugabe Lengser, 70 Persen Rakyat Zimbabwe Mencoblos

    Pada registrasi kendaraan di pusat Harare, para pejabat mengatakan kepada pengendara bahwa mereka tidak yakin kapan plat nomor akan tersedia karena departemen masih menunggu mata uang asing dari bank sentral untuk membayar pemasok Jerman.

    "Kami tidak tahu kapan kami akan memiliki plat nomor, mungkin pada bulan September," kata seorang pejabat pendaftaran yang menolak disebutkan namanya.

    Menteri Perhubungan Joel Matiza mengatakan dia tidak bisa segera berkomentar.

    Melonjaknya inflasi dan kekurangan mengingatkan warga Zimbabwe di bawah Mugabe, tetapi pemerintah Mnangagwa mengatakan ini adalah rasa sakit dari reformasi yang pada akhirnya akan menghidupkan kembali perekonomian Zimbabwe.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.