Iran dan Irak Bangun Rel Kereta Sepanjang 32 Km Senilai Rp 2,1 T

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Teheran, 13 Juni 2019.[situs resmi Khamenei/REUTERS]

    Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Teheran, 13 Juni 2019.[situs resmi Khamenei/REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Iran dan Irak bekerja sama membangun rel kereta sepanjang 32 kilometer berbiaya US$ 150 juta atau setara dengan Rp 2,1 triliun.

    Menurut pejabat resmi Iran, rel kereta akan menghubungkan kota Shalamcheh di barat daya Iran dengan kota Basra di selatan Irak.

    Baca juga: Rel Kereta Lego Terpanjang di Dunia

    Mengutip laporan Fars News, 2 Juli 2019, pelaksanaan pembangunan rel kereta tinggal menunggu penandatangan dari pihak Irak.

    "Kami siap memulai tahap pelaksanaan tiga bulan ke depan," kata Kheirollah Khademi, pemimpin perusahaan infrastruktur sistem transportasi Iran, Senin, 1 Juli 2019.

    Proyek rel kereta Iran - Irak didanai oleh The Mostazafan Foundation, lembaga amal semi pemerintahan yang berpengalaman bertahun-tahun dalam kegiatan konstruksi.

    Baca juga: Gagas Jalur Sutera Baru, Cina Siap Bangun Jalur Kereta ke Rusia

    Proyek rel kereta ini disetujui pada akhir bulan lalu saat Iran dan Irak menandatangani 5 MoU untuk perluasan kerja sama bilateral dalam berbagai sektor ekonomi dan layanan kesehatan.

    Pemimpin perusahaaan Kereta Republik Irak, Salib al-Hussaini mengatakan pada 12 April lalu bahwa Teheran, Baghdad, dan Damaskus akan bersama-sama menggelar KTT untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang pengembangan rel kereta dan  kereta transnasional yang menghubungkan 3 negara ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.