Peretas Asal Cina Diduga Jebol 10 Jaringan Telekomunikasi Global

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker sedang menjual identitas digital di dalam dark web. mic.com

    Ilustrasi hacker sedang menjual identitas digital di dalam dark web. mic.com

    TEMPO.COLondon – Jutaan warga Inggris pemilik ponsel genggam kemungkinan mengalami kebocoran data, yang diakses oleh peretas asal Cina.

    Baca juga: Peretas Cina Serang Kontraktor Angkatan Laut AS

     

    Peretasan ini diduga telah berlangsung selama tujuh tahun dan menjadi serangan siber terbesar yang pernah terjadi.

    “Peretas, yang diduga bekerja untuk pemerintah Cina, memasang alat mata-mata di dalam sekurangnya 10 perusahaan telekomunikasi di seluruh dunia dan menarget orang-orang penting,” begitu dilansir Daily Mail pada Sabtu, 29 Juni 2019.

    Alat sadap yang terpasang itu memungkinkan peretas asal Cina mengumpulkan berbagai informasi detil pelanggan mengenai panggilan telpon dan pesan singkat termasuk data lokasi atau GPS dari ponsel cerdas pengguna untuk melacak pergerakan mereka secara tepat,” begitu dilansir media asal Inggris ini.

    Baca juga: Pengadilan Federal Amerika Dakwa Peretas Cina

     

    Terungkapnya kasus ini menimbulkan kekhawatiran baru soal penggunaan teknologi telekomunikasi yang ditawarkan perusahaan telekomunikasi raksasa Huawei untuk jaringan telekomunikasi di Inggris. Ada kekhawatiran jaringan ini akan digunakan untuk kegiatan mata-mata.

    Sumber dari konferensi keamanan internet Cyber Week di Israel mengungkap operasi peretasan ini menunjukkan jaringan telekomunikasi yang terdampak bisa terkait dengan Inggris.

    Insiden serangan siber ini diungkap oleh perusahaan keamanan internet Cyberreason, yang merupakan perusahaan patungan AS dan Israel.

    Baca juga: Amerika Tuding Peretas Cina Curi Informasi Anggota Militer

     

    Indikasi awal, operasi peretasan ini untuk mengumpulkan informasi mengenai sejumlah pembelot asal Cina. Peretas juga menggunakan ponsel para pembelot untuk melawan mereka ini.

    “Peretas mengekstrak ratusan gigabita data dari sejumlah jaringan telekomunikasi,” begitu dilansir Daily Mail. “Ini artinya jutaan data pelanggan yang bukan target menjadi bocor.”

     Secara terpisah, Reuters melansir kementerian Keamanan Negara Cina diduga menggunakan peretas untuk menjebol delapan delapan perusahaan penyedia layanan teknologi terbesar dunia.

    Mereka diduga mencuri berbagai data komersial dan rahasia klien.

    Peretas asal Cina dilaporkan menggunakan teknik Cloud Hopper untuk mencuri berbagai informasi sensitif milik pengguna ponsel, yang dimiliki para pejabat di berbagai negara. Tim keamanan siber dari AS dan negara Barat menemukan adanya operasi Cloud Hopper ini sejak beberapa waktu lalu.

    Pada Desember 2019, otoritas AS mengenakan dakwaan kepada sejumlah peretas Cina untuk mencuri informasi hak paten untuk memajukan kepentingan ekonomi Cina. Dua perusahaan yang terkena serangan ini seperti Hewlett Packard Enterprise dan IBM.

    Selama ini, pemerintah Cina menanggapi tudingan negara Barat dengan mengatakan mereka tidak melakukan espionase internet. Beijing juga mengaku menjadi korban dari serangan peretasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.