KTT G20, Presiden Jokowi Angkat Isu Pendidikan dan Perempuan

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi dalam pertemuan hari kedua KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu, 29 Juni 2019. [SEKRETARIAT PRESIDEN]

    Presiden Jokowi dalam pertemuan hari kedua KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu, 29 Juni 2019. [SEKRETARIAT PRESIDEN]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Jokowi mengangkat isu akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan saat berbicara pada sesi III KTT G20 Osaka , Jepang dengan tema Addressing Inequalities & Realizing an Inclusive and Sustainable World, Sabtu, 29 Juni 2019.

    “Kita semua paham bahwa akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan merupakan elemen penting untuk mencapai target Sustainable Development Goals. Dan itu memerlukan kerja sama kita semua,” kata Presiden Jokowi di depan para pemimpin negara anggota G20.

    Baca juga: Bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Presiden Jokowi Bahas 4 Isu Ini

    Terkait pendidikan, Presiden menegaskan perlu penyesuaian sistem pendidikan saat ini yang masih mengikuti pola pendidikan yang lama. Padahal, di era digital seperti sekarang ini, terjadi perubahan terkait pola mental dan pola pergaulan anak-anak  abad 21.

    “Anak kita sekarang hidup di eranya YouTube video yang rata-rata panjangnya hanya 12 menit, di eranya Instagram video atau Twitter video yang rata-rata panjangnya 6 menit atau bahkan sependek 1 menit. Dulu, anak-anak bergaul dengan misalnya naik sepeda bersama, sekarang anak kita bergaul dengan ramai-ramai main video game “Massive Multi-Player Online Game” seperti Fortnite dan Minecraft,” ujar Presiden.

    Baca juga: Donald Trump Akhirnya Izinkan AS Kembali Berbisnis dengan Huawei

    Kemudian terkait dengan partisipasi perempuan, Presiden Jokowi mengatakan bahwa peran perempuan di dalam ekonomi, politik dan kehidupan bermasyarakat masih jauh dari potensi yang ada. Padahal  di era berbagai tren yang dipicu digitalisasi dan globalisasi, wanita bisa lebih unggul daripada pria.

    “Perempuan lebih rajin, lebih tekun, lebih detail, lebih sabar, dan lebih team-work daripada kita. Karena e-Commerce dan teknologi membutuhkan karakter seperti itu, sehingga meningkatkan partisipasi perempuan dalam bisnis, ekonomi dan politik otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional di era digital,” ungkap Presiden.

    Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengatakan, ke depan pemerintahannya akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Indonesia, menurut Presiden, memiliki 68,6 persen atau sekitar 181,3 juta orang berada pada usia produktif.

    “Agar penduduk usia produktif tersebut menjadi bonus demografi diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing,” ucap Presiden.

    Baca juga: Jokowi Temui Xi Jinping Bahas Perang Dagang Cina-AS di KTT G20

    Di tingkat kawasan, Presiden juga menyampaikan di hadapan peserta KTT G20  bahwa para pemimpin ASEAN baru saja mengadopsi “ASEAN Outlook on Indo-Pacific” yang berisi sikap, cara pandang dan kesiapan ASEAN untuk bekerjasama dengan pihak manapun, yang merupakan kontribusi ASEAN bagi upaya menjaga stabilitas dan perdamaian serta menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkesinambungan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.