Kasus Jamal Khashoggi, PBB Minta Mohammed bin Salman Diselidiki

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Saudi journalist Jamal Khashoggi, named TIME's Person of the Year 2018, is seen on the cover which named journalists, including Maria Ressa, a Filipina journalist, and a pair of Reuters journalists imprisoned by Myanmar's government, as its

    Saudi journalist Jamal Khashoggi, named TIME's Person of the Year 2018, is seen on the cover which named journalists, including Maria Ressa, a Filipina journalist, and a pair of Reuters journalists imprisoned by Myanmar's government, as its "Person of the Year," in this image released from New York, U.S., December 11, 2018. Courtesy Time Magazine/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelapor khusus PBB mengatakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman harus diselidiki terkait pembunuhan Jamal Khashoggi oleh regu yang dikirim dari Riyadh.

    Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard mengatakan, otoritas Arab Saudi gagal mengungkap otak di balik pembunuhan Jamal Khashoggi.

    Callamard kembali mengulangi permintaan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penasihat utama, dan pejabat senior lain harus diinvestigasi.

    Baca juga: Pelaku Sebut Jamal Khashoggi Hewan Kurban Sebelum Dibunuh

    Kerajaan Arab Saudi beberapa kali membantah laporan CIA dan negara-negara Barat, yang menyimpulkan MBS memerintahkan pembunuhan pada Oktober 2018.

    "Penyelidikan, yang merupakan penyelidikan hak asasi manusia, bukan investigasi kriminal, telah menemukan bukti yang kredibel, yang menjamin penyelidikan lebih lanjut, tentang tanggung jawab individu pejabat tinggi Saudi, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi dan penasihat utamanya (Saud) al Qahtani," kata Callamard kepada Dewan HAM PBB, dikutip dari Reuters, 27 Juni 2019.

    "Investigasi yang dilakukan oleh otoritas Saudi telah gagal untuk mengungkap rantai komando," katanya.

    Baca juga: Erdogan: Pembunuh Akan Membayar Kematian Jurnalis Jamal Khashoggi

    Dia mengulangi rekomendasi dalam laporannya yang dikeluarkan bulan ini, untuk penyelidikan kriminal internasional.

    Abdulaziz Alwasil, duta besar Saudi untuk AS di Jenewa, mengatakan laporan Callamard adalah "berdasarkan prasangka dan ide yang dibuat-buat".

    "Inilah sebabnya kami menolak segala upaya untuk menghapus ini dari sistem peradilan nasional kami di Arab Saudi, terlepas dari bentuk yang mungkin diambil," kata Alwasil kepada dewan.

    Sekutu Teluk termasuk Bahrain dan Uni Emirat Arab mendukung sistem peradilan Saudi untuk melakukan tugasnya.

    Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard.[REUTERS]

    Qahtani, yang dipandang sebagai tangan kanan MBS, dicopot sebagai penasihat kerajaan dan merupakan tokoh berpangkat paling tinggi yang terlibat dalam insiden tersebut. Namun, Qahtani bukan di antara 11 orang yang diadili.

    Baca juga: Detik-detik Pembunuhan Jamal Khashoggi Menurut Investigasi PBB

    "Jaksa penuntut dalam sebuah pernyataan publik telah mengakui bahwa satu orang tertentu, Saud al Qahtani, mengarahkan misi sebelum berangkat, menyebut Khashoggi 'ancaman nasional', namun orang khusus ini belum didakwa," kata Callamard, mencatat bahwa total 15 orang Saudi terlibat.

    Duta Besar Uni Eropa Walter Stevens mengatakan, mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban dan meminta Arab Saudi untuk mengungkapkan semua informasi yang tersedia, dan untuk sepenuhnya bekerja sama dengan semua penyelidikan pembunuhan tersebut.

    "Penjelasan yang diberikan oleh Arab Saudi sampai saat ini tidak cukup," kata Delegasi Kanada untuk PBB.

    Baca juga: PBB Desak MBS Diselidiki atas Pembunuhan Jamal Khashoggi

    Hatice Cengiz, seorang penulis Turki dan tunangan Jamal Khashoggi, mengatakan kepada Dewan bahwa dia ingin tahu siapa yang memberi perintah untuk membunuh Jamal dan siapa lagi yang mengetahui operasi pembunuhan Jamal Khashoggi, serta meminta lokasi jasad Jamal Khashoggi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.