Houthi Gunakan Drone Serang Bandara di Arab Saudi, 1 Orang Tewas

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bahan peledak milik yang disamarkan menjadi batu milik milisi Houthi dan diperoleh dari medan perang di Yaman, dalam pameran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, 19 Juni 2018.[Foto AP/Jon Gambrell]

    Bahan peledak milik yang disamarkan menjadi batu milik milisi Houthi dan diperoleh dari medan perang di Yaman, dalam pameran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, 19 Juni 2018.[Foto AP/Jon Gambrell]

    TEMPO.CO, Jakarta - Milisi Houthi dengan menggunakan drone menyerang bandara internasional Abha di Arab Saudi yang menewaskan satu orang dan melukai 7 orang.

    Menurut laporan media Houthi, Almasirah TV, milisi yang bermarkas di Yaman menyasar dua bandara Arab Saudi, yakni bandara internasional Abha dan Jizan pada hari Minggu, 23 Juni 2019. Kedua bandara ini berlokasi di selatan Arab Saudi.

    Baca juga: 3 Fakta Penting Mengenai Kelompok Houthi di Yaman

    "Serangan teroris oleh milisi Houthi yang didukung Iran terjadi di bandara internasional Abha, seorang warga Suriah tewas dan tujuh warga sipil terluka," ujar pernyataan media pemerintah Arab Saudi.

    Drone milik milisi Houthi menghantam lokasi parkir mobil di bandara Abha.

    Baca juga: Militan Houthi Serang Fasilitas Pengolahan Minyak Arab Saudi

    Milisi Houthi sudah berulang kali menyerang sejumlah fasilitas penting Arab Saudi dengan menggunakan rudal, roket, dan drone.

    Awal Juni ini, rudal Houthi menghantam bandara Abha yang berjarak sekitar 200 kilometer dari perbatasan Yaman di utara. Sedikitnya 26 orang terluka.

    Baca juga: Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi

    Milisi Houthi melakukan serangan dengan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah kota di Arab Saudi di tengah memanasnya hubungan Iran dengan Arab Saudi, negara sekutu Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.