Krisis Air, Begini Situasi Rumah Sakit dan Restoran di Chennai

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengambil air dari genangan air di danau kering di Chennai, India, pada hari Selasa., 12 Juni 2019. [Ravikumar / Reuters]

    Warga mengambil air dari genangan air di danau kering di Chennai, India, pada hari Selasa., 12 Juni 2019. [Ravikumar / Reuters]

    TEMPO.CO, Jakarta - Dampak mengerikan dari krisis air yang parah di Chennai, ibukota negara bagian Tamil Nadu di India telah merambah rumah sakit dan sektor bisnis.

    Keluarga pasien di satu rumah sakit ibu dan anak, Egmore's Government Hospital for Women and Children menuturkan, air bersih di rumah sakit itu sudah habis. Pihak rumah sakit diminta untuk menunggu kedatangan tanker pembawa air bersih.

    Baca juga: India Alami Krisis Air Bersih Terburuk Dalam Sejarah

    "Kami mengalami masalah di rumah dan kami mengalami masalah di sini di rumah sakit. Bagaimana kami dapat percaya pada pemerintah kami," kata Manjula Sridhar, seorang warga Chennai, seperti dikutip dari CNN, 22 Juni 2019.

    Di rumah sakit yang jaraknya sekitar satu mil dari Egmore's Government Hospital for Women and Children, pihak rumah sakit tidak dapat melayani ratusan perempuan yang akan melahirkan setiap minggu.

    Setiap pagi, jutaan warga Chennai antri mengisi tong-tong air yang dibawa oleh sejumlah truk.

    Setiap keluarga diberi kuota air per harinya. Ada juga yang diberi kuota air setiap minggu.

    Situasi ini membuat orang tua ketakutan untuk memastikan anak mereka masih dapat minum air esok hari.

    Baca juga: Krisis Kashmir, India Mau Bendung Pasokan Air Sungai ke Pakistan

    Chennai merupakan satu dari enam kota terbesar di India yang mengalami kehabisan air bersih yang pertama kali saat gelombang panas menerjang India sejak Mei lalu.

    Mereka terpaksa membersihkan peralatan rumah dengan air kotor demi menyimpan sedikit air bersih dalam sejumlah botol untuk digunakan memasak makanan.

    Restoran-restoran kecil di sekitar jalan Pantheon telah tutup selama beberapa minggu. Pemilik restoran, kathir J mengatakan dia sudah 2 minggu menutup restoran karena krisis air. Ia menderita kerugian akibat penutupan restoran senilai US$ 72 setiap hari.

    "Saya dulu memiliki sedikitnya 20-30 konsumen saat makan siang dan lebih banyak lagi saat makan malam. Restoran ini tempat orang makan dengan harga murah untuk makanan komplit seharga 20 rupee (30 cent)," ujarnya.

    Baca juga: Pertama di Dunia, Cape Town Kehabisan Air Bersih Maret 2018

    Empat waduk air yang selama ini memasok air ke Chennai telah mengering.

    Untuk mengatasi kekurangan air, keluarga-keluarga di Chennai mulai mengisi tanki-tanki kecil tempat menyimpan air di rumah mereka dan menggunakan air dengan hemat.

    India telah mendekati krisis air yang parah selama berbulan0bulan. Dengan pengelolaan air yang buruk dan ekstraksi air tanah yang tidak diawasi, para ahli memperkirakan sekitar 600 juta dari 1,3 miliar penduduk India akan menghadapi kekurangan air yang parah.

    Laporan Niti Aayog, lembaga ahli pemerintah India, menyebutkan 21 kota besar termasuk New Delhi akan kehabisan air tanah pada tahun 2020.

    Mengatasi krisis air yang parah, pemerintah Chennai mulai menerima bantuan air dari tetangganya. Pemerintah Kerala misalnya memberikan 2 juta liter air setiap hari yang dibawa dengan kereta api ke Chennai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.