Pejabat AS Akui Donald Trump Ragu untuk Perang dengan Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), dan pemimpin Partai Republik di Senat, Mitch McConnel. Reuters

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), dan pemimpin Partai Republik di Senat, Mitch McConnel. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Donald Trump dilaporkan ragu ketika membuat keputusan apa yang akan diambil terhadap Iran saat rapat di Situation Room pada Kamis kemarin.

    Anggota parlemen di ruangan itu memperhatikan saat Donald Trump ragu ketika mendapat tugas sebagai panglima tertinggi Amerika Serikat, dalam menyikapi tensi dengan Iran.

    Trump tidak membuat inisiatif sendiri, melainkan berfokus pada berbagai perspektif dan argumen yang dilontarkan oleh para anggota parlemen yang berkumpul, kata Ketua Hubungan Luar Negeri Senat James Risch, mengutip laporan CNN, 22 Juni 2019.

    Baca juga: Donald Trump Disebut Kirim Surat ke Iran Ajak Dialog

    Tetapi Senator Partai Republik dari Idaho itu juga mengatakan bahwa Trump adalah seorang presiden yang tidak ingin pergi berperang.

    "Saya benar-benar menyaksikannya tersiksa atas hal ini. Semua ini jatuh pada satu orang," kata Risch.

    "Presiden benar-benar bergulat dengan hal itu," kata Ketua Komisi Angkatan Bersenjata DPR Adam Smith, seorang Demokrat.

    Trump yang saat itu dirundung dilema mendengar saran tim keamanan nasional yang merasa AS harus membalas dendam karena penembakan drone.

    Namun Trump pada akhirnya menarik mundur serangan militer, beberapa menit sebelum menit-menit terakhir.

    Seorang pejabat senior AS mengatakan selama proses itu, Trump tampak sangat serius. Dia sangat mengerti bahwa militer tidak dapat memprediksi untuknya seperti apa tanggapan Iran terhadap serangan AS, dan pemerintahannya tidak ingin mengambil risiko berperang dengan Iran.

    Donald Trump saat diwawancara Chuck Todd dalam Meet The Press NBC.[NBC News]

    Para pejabat militer senang Trump tidak memerintahkan serangan karena ketidakpastian ini. Pada akhirnya, banyak yang mengatakan mereka percaya serangan Iran terhadap tanker dan drone ini pada dasarnya adalah pesan bahwa Iran ingin berbicara dan mereka telah memberi tahu Presiden tentang hal ini.

    Pada hari Jumat, pembicaraan berubah menjadi sanksi.

    "Kami memiliki jalan alternatif untuk memberikan tekanan sanksi tambahan," kata seorang pejabat senior Trump. "Saya tidak akan mengatakan bahwa Presiden memikirkan opsi militer. Hal utama yang kami pikirkan adalah sanksi tambahan."

    Baca juga: Trump Batal Serang Iran Setelah Tahu 150 Orang akan Tewas

    Pejabat ini mengingatkan, bagaimanapun, bahwa Presiden belum mengambil tindakan militer sepenuhnya dari meja.

    "Itu pilihan yang dipertahankan Presiden setiap saat," kata pejabat itu, menambahkan bahwa opsi militer tetap menjadi wewenang presiden.

    Di antara yang hadir dalam briefing, penasihat keamanan nasional Trump John Bolton merekomendasikan presiden untuk maju dengan serangan militer, kata seorang pejabat. Menlu Mike Pompeo dan Wakil Presiden Mike Pence juga mendukung langkah serangan militer.

    "Serang tiga sasaran militer Iran: satu set radar dan baterai rudal, dalam serangan terkoordinasi dini hari," menurut seorang pejabat AS dengan pengetahuan langsung mengenai operasi itu.

    Baca juga: Presiden Donald Trump Mendadak Urungkan Niat Serang Iran

    Seorang pejabat senior mengatakan seluruh tim penasihat keamanan nasional utama Presiden yakin serangan militer adalah respons yang tepat terhadap Iran yang menjatuhkan drone AS.

    Pejabat itu mencatat bagaimana Presiden Donald Trump membuat keputusan mengejutkan membatalkan serangan ke Iran, meski para penasihat utamanya dengan suara bulat menyarankan sebaliknya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.