Maskapai di Meksiko Berikan Penerbangan 1 Dolar ke Imigran Ilegal

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan membantu anaknya saat berusaha melompati pagar pembatas antara Meksiko dan AS secara ilegal, di kawasan Tijuana, Meksiko, 11 Desember 2018. REUTERS

    Seorang perempuan membantu anaknya saat berusaha melompati pagar pembatas antara Meksiko dan AS secara ilegal, di kawasan Tijuana, Meksiko, 11 Desember 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah maskapai asal Meksiko menawarkan terbang dengan biaya hanya US$ 1 terhadap para imigran tak berdokumentasi yang ingin pulang ke negara masing-masing. Tiga negara tujuan yang ditawarkan dalam penerbangan ini adalah Costa Rica, El Salvador, dan Guatemala.

    Dikutip dari english.alarabiya.net, Jumat, 21 Juni 2019, langkah ini dilakukan menyusul kondisi Meksiko yang tertatih dalam mengekang kedatangan imigran dari negara-negara Amerika Tengah. Pulang kampung dengan ongkos hanya US$ 1 ini diberi nama program Penyatuan Keluarga yang diumumkan oleh Volaris pada Kamis, 21 Juni 2019.

    Maskapai Volaris mengatakan program ini bertujuan membantu repatriasi para imigran. Tawaran ini akan berlaku hingga 30 Juni 2019 dan terbuka untuk negara tujuan wilayah Amerika Tengah.

    Baca juga:Presiden Meksiko Obrador Tuding Negara Pelanggar HAM Utama

    Sejumlah migran asal El Salvador mengantre untuk mendapat makanan di tempat penampungan di Tijuana, Meksiko, 6 April 2019. REUTERS/Carlos Jasso

    Baca juga:Dilantik Sumpah Jabatan, Presiden Meksiko Janji Bawa Perubahan

    Untuk mengikuti program ini, para penumpang harus mau terbang dengan jumlah kursi yang tersedia sehingga bisa mendapatkan harga yang sangat murah. Di luar biaya US$ 1 itu, para penumpang juga harus mau membayar biaya pajak bandara untuk penerbangan internasional sebesar US$ 45.

    Penumpang dewasa harus bisa memperlihatkan dokumen identitas, seperti paspor atau akte lahir.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Meksiko kebanjiran imigran dari negara-negara Amerika Tengah. Kondisi ini terjadi setelah Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador yang beraliran kiri mendeklarasikan akan memberlakukan kebijakan imigran yang lebih fleksible. Presiden Obrador menduduki jabatan orang nomor satu Meksiko per 1 Desember 2018.

    Amerika Serikat tercatat kebanjiran lebih banyak imigran dari Amerika Tengah, dibanding Meksiko. Para imigran itu sebagian besar ke Amerika Serikat secara ilegal.

    Kondisi ini telah membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan ancaman, termasuk ke Meksiko. Namun kedua negara akhirnya sepakat untuk memperketat pengamanan di sepanjang wilayah selatan perbatasan serta mendeportasi para imigran ilegal. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.