Riyadh Bakal Lawan Pihak yang Eksploitasi Kasus Jamal Khashoggi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berpose saat berkunjung ke Tembok Cina di Beijing, Cina 21 Februari 2019. Mohammed bin Salman berkunjung ke Tembok Cina menjelang melakukan pertemuan penting dengan Presiden Xi Jinping. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

    Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berpose saat berkunjung ke Tembok Cina di Beijing, Cina 21 Februari 2019. Mohammed bin Salman berkunjung ke Tembok Cina menjelang melakukan pertemuan penting dengan Presiden Xi Jinping. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS memperingatkan akan melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang mengeksploitasi kasus pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi demi mendapatkan keuntungan politik.

    "Kematian Jamal Khashoggi adalah sebuah kejahatan yang sangat menyakitkan," kata Mohammed bin Salman dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Arab Saudi Asharq al-Awsat dan dipublikasi pada Minggu, 16 Juni 2019 waktu setempat.

    Dalam wawancara itu, Mohammed bin Salman mengatakan pejabat pemerintahan Arab Saudi telah dituduh melakukan kejahatan pembunuhan itu dan pihak Kerajaan saat ini sedang mengupayakan sebuah keadilan dan pertanggung jawaban tanpa teralihkan oleh jabatan para tertuduh itu di pemerintahan.

    "Segala bentuk eksploitasi kasus ini secara politik harus dihentikan dan bukti saat ini sudah dikirim ke pengadilan untuk terwujudnya keadilan," kata Mohammed bin Salman.

    Baca juga:Anak Jamal Khashoggi Dapat Uang Bungkam Rp 993 M dari Arab Saudi

    Media Washington Post memasang iklan satu halama dengan gambar jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, untuk mendesak pengungkapan kasus pembunuhan ini. Politico

    Baca juga:Kasus Jamal Khashoggi Terbongkar, Arab Saudi Rombak Intelijen

    Dikutip dari aljazeera.com, Senin, 17 Juni 2019, Mohammed bin Salman mengatakan pihaknya ingin punya hubungan yang kuat dengan seluruh negara-negara Islam, termasuk Turki. Khashoggi dibunuh di kantor konsulat Arab Saudi di kota Istambul, Turki pada Oktober 2018 lalu.

    Hubungan Turki dan Arab Saudi diselimuti ketegangan setelah kasus ini terjadi. Kasus pembunuhan terhadap Khashoggi yang berasal dari Arab Saudi juga telah menodai reputasi Mohammed bin Salman. Sampai sekarang, jasad Khashoggi tidak diketahui keberadaannya.

    Badan Intelijen Amerika Serikat atau CIA menyimpulkan pembunuhan Khashoggi diduga atas perintah Mohammed bin Salman yang berkuasa secara de facto. Namun otoritas Arab Saudi menyangkal tuduhan itu. Jaksa penuntut Arab Saudi telah membebaskan Putra Mahkota Mohammed bin Salam dan menahan puluhan orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan ini. Lima orang dari mereka yang terlibat terancam hukuman mati. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?