Blak-blakan Duterte Tak Setuju Kesepakatan Perubahan Iklim PBB

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: Reuters/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filippina Rodrigo Duterte secara terbuka mengutarakan ketidak sukaannya atas kesepakatan perubahan iklim PBB. Duterte menyebut kesepakatan itu hanya menguntungkan negara-negara kaya dan membuat negara miskin terlihat bodoh.

    "Ada ketidak setujuan terkait perubahan iklim. Sejumlah negara hanya membodohi kita. Saya bahkan sudah mengatakan langsung pada pemimpin tertinggi di PBB kalau aturan Anda hanya menguntungkan negara-negara kaya. Negara miskin seperti kita dibuat tampak bodoh, " kata Duterte dalam pidatonya, Kamis, 13 Juni 2019 waktu setempat.

    Baca juga:Undang-undang Perubahan Iklim AS Mau Dipromosikan Lewat Film

    Sebelumnya pada bulan lalu di konverensi internasional Nikkei di Tokyo, Jepang, Presiden Duterte mengatakan konverensi-konverensi perubahan iklim hanya membuang-buang uang dan tak menghasilkan apa-apa. Dalam kesempatan itu, Duterte juga mengutarakan kemungkinan pihaknya tidak akan mengirimkan delegasi dalam konverensi perubahan iklim bulan depan.

    "Anda ini bodoh (PBB) apakah Anda ini pernah diserang bencana alam. Tidak ada badai di tempat Anda. Di wilayah tertinggi Anda ada salju. Jika anda berteriak (kebijakan), kami akan menderita karena TBC, kanker paru-paru dan kanker tenggorokan karena kami akan menjadi pihak yang menghirup kelebihan emisi karbon Anda ketika Anda mengeluarkannya begitu banyak," kata Duterte.

    Baca juga:3 Pulau Hilang dalam Setahun, Akibat Perubahan Iklim?

    Dikutip dari asiaone.com, Jumat, 14 Juni 2019, konferensi perubahan iklim PBB atau yang lebih populer disebut Conference of Parties adalah sebuah pertemuan tahunan dimana seluruh negara anggota PBB berkumpul mendiskusikan penerapan dan status kesepakatan perubahan iklim.

    Diantara kesepakatan yang dihasilkan dari konverensi perubahan iklim itu adalah Kesepakatan Paris yang membatasi emisi karbon setiap negara hingga ke level tertentu. Tujuan dari Kesepakatan Paris yakni untuk tetap membuat pemanasan global di bawah dua derajat celcius atau ke tingkat sebelum terjadinya revolusi industri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?