Mahathir Diminta Tetapkan Waktu Transisi PM kepada Anwar Ibrahim

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menemui Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad setelah ia bebas dari hukuman, di National Palace, Kuala Lumpur, Malaysia, 16 Mei 2018. Department of Information/Krish Balakrishnan/Handout via REUTERS

    Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menemui Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad setelah ia bebas dari hukuman, di National Palace, Kuala Lumpur, Malaysia, 16 Mei 2018. Department of Information/Krish Balakrishnan/Handout via REUTERS

    TEMPO.COPetaling Jaya – Perdana Menteri Mahathir Mohamad diminta menetapkan waktu penyerahan jabatannya kepada Anwar Ibrahim, yang merupakan presiden Partai Kedaulatan Rakyat.

    Baca juga: Mahathir Bakal Dikudeta? Anwar Ibrahim Menampik

     

    Anwar merupakan calon pengganti Mahathir yang telah disepakati dalam koalisi pendukung Mahathir yaitu Pakatan Harapan. PKR dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia, besutan Mahathir, tergabung di dalam koalisi Pakatan Harapan. 

    Desakan ini datang dari kelompok Otai Reformasi, yang dikenal sebagai pendukung loyal Anwar. Ketua Otai, Idris Ahmad, mengatakan saat ini terjadi ketidak-jelasan rencana penyerahan jabatan PM kepada Anwar.

    Baca juga: Aset Anwar Ibrahim Senilai Rp 37 Miliar, Mahathir Rp 112 Miliar

     

    Ini menimbulkan rasa ketidakpercayaan kepada Mahathir bahwa dia akan mundur dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Anwar.

    “Mahathir sebaiknya menetapkan tanggap kapan dia berencana menyerahkan posisi PM kepada Anwar,” kata Idris seperti dilansir The Star pada Jumat, 14 Juni 2019.

    Baca juga: Ini Klarifikasi Wan Azizah Soal Anwar Ibrahim Gantikan Mahathir

     

    Idris mengatakan ada ketidak-jelasan transisi kekuasaan saat ini. “Ini menjadi polemik diantara rakyat dan berdampak kepada investor asing,” kata dia.

    Mahathir, 93 tahun, belum menetapkan tanggal pasti transisi kekuasaan PM kepada Anwar, yang pernah menjadi Deputi PM saat Mahathir menjabat PM pada era 90an.

    Baca juga: Anwar Ibrahim Minta Mahathir Klarifikasi Soal Ketua KPK Malaysia

     

    Mahathir dan Anwar pecah kongsi akibat perbedaan kebijakan pengelolaan ekonomi dan kasus skandal sodomi yang menerpa Anwar.

    Pada Februari 2019, Anwar mengatakan dia berharap dalam dua tahun ini akan menjadi PM. Namun, dia juga mengatakan Mahathir harus diberikan ruang yang cukup untuk memerintah di tengah situasi negara yang sulit.

    Baca juga: Mahathir Tanggapi Anwar Ibrahim Soal Ketua KPK Malaysia

     

    Idris mengatakan akan lebih baik jika Mahathir mengundurkan diri secepatnya. “Tapi tidak apa-apa jika kita memberi mereka waktu mengenai cara mengalihkan posisinya kepada Anwar,” kata dia.

    Idris mengatakan kelompok Otai akan bergerak jika posisi PM berikutnya tidak diberikan Mahathir kepada Anwar. “Konsesusnya, PM kedelapan adalah Anwar. Setelah itu tidak masalah. Itu adalah kesepakatannya,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.