Hassan Rouhani Ajukan Syarat Jika Amerika Serikat Ingin Dialog

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. AP Photo/Jeff Roberson, REUTERS/Lisi Niesner

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. AP Photo/Jeff Roberson, REUTERS/Lisi Niesner

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Iran Hassan Rouhani pada Sabtu, 1 Juni 2019, menyebut pihaknya mau berdialog dengan Amerika Serikat dengan syarat jika Negara Abang Sam itu memperlihatkan sikap menghormati. Tehran saat ini tidak sudi ditekan agar mau bernegosiasi.

    "Kami akan berfikir logis dan berdialog jika (Amerika Serikat) mau duduk dengan hormat di meja negosiasi dan mengikuti aturan internasional. Kami tidak mau diperintah untuk bernegosiasi," kata Rouhani seperti diwartakan kantor berita Fars.

    Dalam pidatonya di hadapan sekelompok atlit asal Iran, Rohuani mengatakan pihaknya memahami pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang baru-baru ini dilontarkan. Dia pun menyarankan Amerika Serikat agar mencabut pernyataan pada tahun lalu yang mendorong adanya perubahan di pemerintahan Iran.

    "Musuh yang sama yang pada tahun lalu mendeklarasikan akan menghancurkan Republik Iran pada hari ini secara eksplisit menyatakan tidak mau melakukan apapun pada sistem kami. Jika kita berfikir perang dengan Amerika Serikat itu terjadi, maka kita akan menang," kata Rouhani.

    Baca juga:Iran Tuding Arab Saudi Giring Opini Negara Teluk di KTT GCC

    Demonstran membakar bendera AS saat melakukan aksi protes setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional di Tehran, Iran,9 Mei 2018. AP

    Baca juga:AS Siap Kerahkan Militer Jika Asetnya di Timteng Diserang Iran

    Sebelumnya Rouhani memperlihatkan sinyalemen bahwa perundingan dengan Amerika Serikat mungkin dilakukan jika sanksi ekonomi yang dikenakan pada negaranya dicabut. Sikap itu bertolak belakang dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang pada Rabu, 29 Mei 2019 mengatakan Tehran tidak akan sudi bernegosiasi dengan Washington.

    Iran dan Amerika Serikat saling gertak dalam sebulan terakhir atau setahun setelah Washington menarik diri dari kesepakatan internasional nuklir Iran yang dibuat antara Amerika Serikat, Iran dan negara-negara kekuatan dunia dengan alasan kesepakatan itu lemah dan ingin ada sebuah kesepakatan baru. Dalam kesepakatan yang dibuat pada 2015 itu, Iran akan mengurangi program nuklirnya dan sebagai imbalannya sanksi ekonomi internasional terhadap Iran bakal dicabut.

    Program nuklir Iran dituding ditujukan untuk membuat senjata nuklir. Namun Tehran berulang kali menyangkalnya.

    Pada Mei 2019, Presiden Trump memperketat sanksi ekonomi pada Iran dengan memerintahkan seluruh negara di dunia tidak lagi membeli minyak mentah Iran. Trump pun mengatakan telah mengirim pasukan militer tambahan ke Timur Tengah untuk merespon sebuah ancaman dari Iran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?