Muslim Myanmar Dilarang Tarawih, Umat Budha Bagikan Mawar Putih

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis lintas agama menunggu untuk membagikan mawar putih kepada umat Islam di Masjid Myoma di Sagaing, Senin 27 Mei 2019.(Khin Hnin Wai / Myanmar Now)

    Aktivis lintas agama menunggu untuk membagikan mawar putih kepada umat Islam di Masjid Myoma di Sagaing, Senin 27 Mei 2019.(Khin Hnin Wai / Myanmar Now)

    TEMPO.CO, Jakarta - Para aktivis lintas agama dan pemeluk Budha menggelar kampanye solidaritas terhadap Muslim Myanmar setelah massa nasionalis garis keras melarang tarawih di Dagon Selatan.

    Para aktivis yang kebanyakan beragama Budha terinspirasi oleh seorang biksu yang menyerahkan mawar putih kepada umat Islam di kota itu setelah tarawih, sehari setelah insiden.

    "Saya datang ke sini untuk menunjukkan solidaritas dan semangat kemanusiaan setelah apa yang terjadi semalam," kata U Seintita, kepala biara di Pyin Oo Lwin dekat Mandalay, dikutip dari Myanmar Now, 30 Mei 2019.

    "Saya ingin menunjukkan penghargaan kepada semua saudara Muslim kami...Itu tidak hanya isyarat perdamaian bagi gerombolan (garis keras) tetapi juga pesan niat baik untuk semua warga negara lainnya," tambahnya.

    Baca juga: Pengadilan Myanmar Perintahkan Tangkap Biksu Penghasut, Wirathu

    Keesokan paginya, para aktivis Budha menyerahkan mawar putih kepada umat Islam setelah tarawih di sebuah masjid di kota Dagon, dengan mengatakan mereka ingin menentang penindasan orang-orang dari agama yang berbeda.

    Kemudian pada hari Senin sekelompok umat Budha di Sagaing, dekat Mandalay, meluncurkan kampanye mawar putih di masjid Myoma.

    "Ini kampanye yang ditujukan untuk menunjukkan kebaikan hati kami yang penuh kasih kepada teman-teman Muslim kami di Sagaing, setelah penutupan paksa tiga rumah doa di Yangon," kata Ma Su Chit, seorang warga setempat yang memimpin kampanye.

    Dia dan rekan-rekan aktivisnya berencana membagikan lebih banyak mawar putih di kota-kota lain sepanjang Ramadan.

    "Kami juga melakukannya lagi di Yangon," kata Ma Su Chit.

    Baca juga: Amnesty: Militer Myanmar Culik dan Siksa Warga Sipil di Rakhine

    Nyi Pu Lay, seorang penulis terkemuka yang berbasis di Mandalay, melakukan perjalanan selama satu jam ke Sagaing untuk menunjukkan dukungan kepada umat Muslim yang berdoa di sana.

    "Saya percaya pada kebebasan beragama, dan saya berdiri di sisi hak asasi manusia," katanya.

    Setelah membagikan bunga, para aktivis mengadakan diskusi panel tentang cara mencegah konflik agama dan hidup dalam harmoni.

    Kelompok nasionalis garis keras Myanmar melarang umat Muslim di Dagon Selatan tidak melakukan salat tarawih.[Myanmar Now]

    Pada Rabu malam, gerombolan nasionalis garis keras berkumpul di permukiman pinggiran Yangon untuk memaksa Muslim menghentikan salat tarawih, kata saksi mata.

    Diperkirakan 150 nasionalis berkeliaran di tiga lingkungan di South Dagon Township, memaksa masuk ke ruang salat di rumah-rumah penduduk dan memberi tahu untuk berhenti salat tarawih.

    Baca juga: Indonesia Diminta Terus Suarakan Genosida Rohingya di Myanmar

    Massa juga menahan seorang jurnalis dan mengancamnya dengan pisau, kata Thet Swe Win, seorang aktivis kerukunan antaragama.

    Penduduk Muslim juga dipaksa untuk menghancurkan tempat wudhu di rumah mereka.

    Polisi di Dagon Selatan telah memburu dua pemimpin gerombolan yang melarang umat Muslim Myanmar salat tarawih, yakni Michael Kyaw Myint dan Thiha Myo Naing, yang akan dikenakan dakwaan menyebabkan ketakutan atau mengganggu ketertiban publik di bawah pasal 505 (b).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.