Cerita Staf Saat Terbang Bersama Donald Trump di Air Force One

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS, Donald Trump keluar dari Pesawat Kepresidenan usai mendarat di Noi Bai Airport di Hanoi, Vietnam, 26 Februari 2019. Kunjungan Donald Trump ke Vietnam guna melakukan Pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam KTT Kedua. REUTERS/Kham/Pool

    Presiden AS, Donald Trump keluar dari Pesawat Kepresidenan usai mendarat di Noi Bai Airport di Hanoi, Vietnam, 26 Februari 2019. Kunjungan Donald Trump ke Vietnam guna melakukan Pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam KTT Kedua. REUTERS/Kham/Pool

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu pesawat kepresidenan Amerika Serikat Air Force One bersama Presiden Donald Trump, rupanya tidak terlalu berkesan seperti yang dibayangkan.

    Presiden Trump ke Tokyo akhir pekan ini, mengawali kunjungan ke lima negara dan membuatnya menghabiskan lebih banyak waktu di pesawat kepresidenan selama 80 jam lebih penerbangan.

    Baca juga: Trump Kecewa pada Media Selalu Diberitakan Miring

    "Rasanya seperti ditawan," kata seorang staf yang bepergian dengan Presiden Trump di Air Force One, seperti dikutip dari CNN, 26 Mei 2019.

    Pejabat saat ini dan mantan pejabat menceritakan perjalanan bersama presiden sangat melelahkan apalagi dengan jam kerja yang panjang.

    Tetapi beberapa pejabat secara pribadi mengatakan penerbangan ke luar negeri bersama presiden adalah yang paling buruk. Durasi perjalanan bisa mencapai hampir 20 jam, ruang tidur terbatas, televisi streaming Fox News terus-menerus, dan jika tajuk berita yang melintas di bagian bawah layar tidak disukai Trump, para pembantunya tahu sudah waktunya untuk bekerja keras selama penerbangan.

    Donald Trump dan Melania Trump saat akan berangkat dengan Air Force One, Selasa, 10 Juli 2018, di Pangkalan Angkatan Udara Andrew, Md. Trump melakukan perjalanan selama seminggu ke Eropa dalam tur empat negara, dengan singgah di Belgia, Inggris, Skotlandia dan Finlandia. (Foto AP / Pablo Martinez Monsivais)

    Presiden Trump naik Air Force One pada hari Jumat untuk penerbangan 14 jam ke Tokyo, dan stafnya bersiap-siap untuk perjalanan panjang yang melelahkan.

    Suatu ketika Trump sedang membahas petani yang telah dirugikan oleh tarif, tetapi dengan cepat beralih dengan menyebut ketua DPR Demokrat gila, dan mengatakan Demokrat berusaha menikamnya seribu kali.

    "Teruslah menusuk," katanya di Ruang Roosevelt.

    Kesaksian ini diperoleh dari wawancara dengan lima pejabat saat ini dan mantan pejabat yang telah melakukan perjalanan dengan Presiden di Air Force One.

    Donald Trump diperkirakan akan menempuh 58.000 km perjalanan musim panas ini, termasuk dua perjalanan masing-masing ke Jepang dan Eropa.

    Baca juga: Donald Trump Habiskan 60 Persen Waktu Kerjanya untuk Bersantai

    Ketika Trump baru menjabat, para staf berebut untuk melakukan perjalanan di luar negeri. Tetapi sekarang, pada tahun ketiga masa kepresidenannya, beberapa pejabat mengatakan mereka berupaya sebisa mungkin menghindari perjalanan ke luar negeri.

    Dalam pemerintahan manapun, perjalanan panjang ke luar negeri adalah pekerjaan yang sulit yang seringkali membutuhkan jam kerja panjang dengan sedikit tidur. Selain kamar tidur presiden, Air Force One tidak dilengkapi dengan jenis kursi malas yang sekarang umum di kelas bisnis komersial.

    "Dia (Trump) tidak akan tidur," kata satu sumber.

    Ketika staf punya waktu tidur, timbul masalah lain yakni menemukan ruang untuk tidur.

    Tanpa tempat tidur khusus, mereka menggunakan apa yang para staf sebut sofa mini atau bersandar di kursi kantor dan menopang kaki mereka di atas meja.

    Beberapa menyebar di lantai ruang konferensi atau di bangku kulit di sepanjang sisi pesawat, dan bagi banyak staf berpengalaman mereka mempersiapkan diri dengan membawa matras yoga untuk tidur di lantai.

    Selama perjalanan Air Force One musim panas kali ini, Gedung Putih belum mengumumkan apakah Donald Trump akan menghadiri G7 tahun ini, yang digelar di Prancis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.