Ulama Syiah Terkemuka Minta Irak Tidak Diseret dalam Perang

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ulamah Syiah berpengaruh di irak, Muqtada al-Sadr. [THE NATIONAL]

    Ulamah Syiah berpengaruh di irak, Muqtada al-Sadr. [THE NATIONAL]

    TEMPO.CO, Jakarta - Ulama Syiah berpengaruh di Irak, Muqtada al-Sadr memperingatkan agar Irak tidak diseret dalam konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut al-Sadr, perang antara Iran dan AS akan menghancurkan Irak.

    Baca juga: Trump Diduga Menyatakan Perang terhadap Iran Tanpa Izin Kongres

    "Perang antara Iran dan AS akan mengakhiri Irak," kata al-Sadr  melalui Twitter seperti dikutip dari Anadolu, 20 Mei 2019.

    Al-Sadr juga memperingatkan siapa saja yang menyeret Irak ke dalam perang dan membuat Irak jadi arenaa konflik akan menjadi musuh rakyat Irak.

    Baca juga: Angkatan Laut Amerika Mulai Patroli Laut Bersama Negara Arab

    "Saya menentang penyeretan Irak ke dalam perang dan membuatnya jadi lahan konflik Iran dan AS," ujar al-Sadr.

    Eskalasi permusuhan antara Iran dan AS sudah semakin panas. Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu, 19 Mei 2019 mengingatkan Iran untuk tidak mengancam AS. Jika terjadi, maka itu berarti Teheran hancur.

    Baca juga: Bahrain Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran dan Irak

    Pekan lalu, Kedutaan AS di Baghdad, Irak memulangkan stafnya sehubungan meningkatkan ketegangan dengan Iran. Bahrain, sekutu AS, meminta warganya segera meninggalkan Iran dan Irak. ExxonMobil juga mengevakuasi staf asingnya dari Irak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.