Irak Enggan Wilayahnya Digunakan AS untuk Serang Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Haidar Mansour Hadi, Duta Besar Irak untuk Rusia.[Middle East Monitor]

    Haidar Mansour Hadi, Duta Besar Irak untuk Rusia.[Middle East Monitor]

    TEMPO.CO, Jakarta - Haidar Mansour Hadi, Duta Besar Irak untuk Rusia, mengungkapkan tidak ingin ada yang perang baru di Timur Tengah dan tidak membiarkan AS menggunakan wilayahnya untuk berperang dengan Iran.

    "Irak adalah negara berdaulat. Kami tidak akan membiarkan menggunakan wilayah kami," kata Haidar saat konferensi pers di Moskow, Rusia, 15 Mei 2019. seperti dilansir dari RT.

    Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri-nya memerintahkan semua pegawai non-inti kedutaan di Baghdad dan konsulatnya di Irbil, Irak untuk segara pulang, pada Rabu 15 April 2019. Ini menimbulkan kekhawatiran akan timbul perang baru di Timur Tengah antara AS dan Iran.

    Baca juga: Amerika Pulangkan Staf Non-Inti dari Kedubes di Irak

    Haidar berharap tidak akan terjadi apapun. Dia menambahkan akan menggunakan kedekatakannya di antara kedua negara untuk memediasi menurunkan tensi ketegangan, Irak menegaskan bahwa kami ingin menjadi bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah.

    "Kita tidak menginginkan perang baru yang menghancurkan di kawasan itu," ujarnya.

    Langkah itu membuat Jerman dan Belanda untuk menghentikan program pelatihan militer Irak, karena meningkatnya ketegangan di wilayah itu.

    Sebuah pesawat pembom B-52H Stratofortress yang ditugaskan ke Skadron Bom Ekspedisi ke-20 mendarat di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, 8 Mei. Satuan Tugas Bomber dikerahkan ke Komando Pusat AS untuk mempertahankan pasukan dan kepentingan Amerika di wilayah tersebut. (Staf Sersan Ashley Gardner / US Air Force / Military Times)

    Ketegangan antara AS dan Irak berkobar, setelah Negeri Paman Sam secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir Iran 2015.

    Amerika memberlakukan kembali semua sanksi terhadap Iran. Juga mengancam negara-negara lain, yang terus berdagang dengan Teheran.

    Baca juga: Jerman Hentikan Latihan Militer Irak, Kenapa?

    Tekanan Amerika yang meningkat membuat Iran marah. Baru-baru ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, negaranya tidak akan mengadakan pembicaraan dengan AS tentang kesepakatan nuklir baru. Dia menyatakan keyakinannya bahwa Iran dan AS tidak akan terlibat dalam konflik militer karena tidak ada pihak yang menginginkan perang.

    RT | EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.