Umat Muslim, Hindu dan Kristen Buka Puasa Bersama di Gereja

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tokoh agama yang hadir dalam acara buka puasa di Gereja  Anglikan St. Luke, Uni Emirat Arab.[CNN]

    Tokoh agama yang hadir dalam acara buka puasa di Gereja Anglikan St. Luke, Uni Emirat Arab.[CNN]

    TEMPO.CO, Jakarta - Sesuai dengan visi Uni Emirat Arab untuk tahun 2019 sebagai "Tahun Toleransi", sekelompok ekspatriat merayakan Ramadan dengan buka puasa bersama di dalam sebuah gereja di Ras Al Khaimah.

    Para ekspatriat, terutama dari Kerala, India, menghabiskan malam merayakan Ramadan dan mengambil bagian dalam acara buka puasa bersama di dalam Gereja Anglikan St Luke di UEA bagian utara, seperti dilaporkan Gulf News, 12 Mei 2019.

    Gereja Anglikan St Luke adalah bagian dari Chaplaincy Dubai dan Sharjah dengan Emirates Utara, di dalam Keuskupan Anglikan Siprus dan Teluk, yang merupakan satu dari empat Keuskupan Gereja Episkopal di Yerusalem dan Timur Tengah. Gereja ini juga merupakan Persekutuan Anglikan di seluruh dunia.

    Baca: Unik, Negara-negara Arab Pakai Meriam untuk Menandakan Buka Puasa

    Ada lima gereja dalam kapelan: Gereja Anglikan St Lukedi Ras Al Khaimah, Gereja Anglikan St Nicholas di Fujairah, Gereja Anglikan St Martin di Sharjah, Gereja Kristus (Anglikan) di Jebel Ali, dan Gereja Anglikan Tritunggal Mahakudus di Dubai.

    Imam kepala dari tiga kelompok agama, yakni Hindu, Kristen dan Islam, datang bersama untuk menyebarkan pesan perdamaian, cinta dan harmoni di antara komunitas ekspatriat di UEA.

    Tamu kehormatan Swami Sandeep Anandagiri (tengah) bercakap-cakap dengan anggota masyarakat lainnya untuk merayakan Iftar khusus di gereja Ras Al Khaimah.[Gulf News]

    Acara buka puasa yang berjudul "Vishu Easter and Iftar meet", diselenggarakan oleh RAK Knowledge Theatre bersama dengan kelompok masyarakat lainnya, termasuk Pusat Kebudayaan Muslim Kerala yang berbasis di UEA.

    Seorang pendeta Hindu Swami Sandeep Anandagiri terbang dari Trivandrum, Kerala, demi menyampaikan pesan khusus di acara tersebut.

    Baca: Kisah Sambut Ramadan di Berbagai Negara, Libya Dibayangi Perang

    "Kami membutuhkan lebih banyak acara seperti ini untuk menyebarkan pesan cinta dan perdamaian. Sangat mengerikan hidup dalam kebencian dan kekerasan....Saya belum pernah melihat peristiwa seperti ini di mana umat Islam berbuka puasa dan melakukan salat Iftar di dalam gereja. Itu adalah momen yang indah," kata Anandagiri.

    Anandagiri juga memberikan Upanishad Shantimantra saat buka puasa.

    "Di Kerala, kerukunan antaragama adalah hal biasa. Orang-orang dari agama yang berbeda berkumpul bersama dalam pernikahan dan itu tidak dianggap sebagai masalah besar di negara bagian," tambahnya.

    Orang-orang Muslim melakukan salat magrib di dalam Gereja Anglikan St. Luke di Ras Al Khaimah, yang pertama dalam sejarah UEA selama bulan Ramadan.[Gulf News]

    Pastor Kent Middleton, yang berasal dari Afrika Selatan mengatakan, dia antusias menjadi tuan rumah buka puasa tiga agama dan akan melakukannya secara teratur ke depan.

    Pastor Nelson Fernandes, mantan pastor paroki dari gereja Anglikan St. Luke mengatakan, "Selama 13 tahun saya tinggal di UEA, saya belum pernah melihat yang seperti ini. Setahu saya, ini adalah pertama kalinya sebuah gereja mengadakan Iftar."

    Fernandes mengatakan acara dimulai sekitar jam 5 sore ketika orang-orang mulai datang ke gereja.

    Pidato utama disampaikan oleh Swamiji dan dia mengakhiri pembicaraan tepat sebelum Iftar.

    Baca: Lampion Ramadan Laris di Arab Saudi

    Saidalavi Thayatt, sekretaris jenderal Pusat Kebudayaan Muslim Kerala, mengatakan agenda utama malam itu adalah untuk merayakan Ramadan dan mengambil bagian dalam Iftar sebagai satu komunitas besar.

    "Semua orang bahkan melakukan salat magrib di dalam gereja," katanya.

    George Samuel, ketua RAK Knowledge Theatre mengkonfirmasi lebih dari 500 orang hadir pada acara buka puasa bersama Muslim, Hindu dan Kristen, yang digelar pada hari Kamis kemarin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.